Naradaily-Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan Indonesia akan menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2050. Optimisme tersebut didasarkan pada kekuatan fundamental ekonomi domestik serta potensi pertumbuhan kawasan Asia dalam beberapa dekade ke depan.

Dalam jangka pendek, Airlangga juga memperkirakan ekonomi Indonesia mampu tumbuh sekitar 5,4 persen pada 2026. Ia menilai kondisi ekonomi nasional masih cukup solid, salah satunya tercermin dari surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 69 bulan berturut-turut hingga awal tahun ini.

“Kami juga mempercepat strategi Indonesia Incorporated, yaitu sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh elemen bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan bersama,” ujar Airlangga dalam Tokyo Conference 2026, dikutip di Jakarta, Rabu (10/3/2026).

Melalui strategi tersebut, Indonesia dinilai siap memperkuat kerja sama dengan berbagai mitra di kawasan guna menjaga ketahanan ekonomi global di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Dalam paparannya, Airlangga juga menekankan bahwa negara-negara Asia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi utama dunia di masa depan. Namun potensi tersebut hanya dapat terwujud jika kawasan tetap menjaga komitmen terhadap kerja sama regional yang terbuka dan inklusif.

Kawasan Asia diproyeksikan menyumbang sekitar 52 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global pada tahun 2050. Artinya, dalam kurang dari 25 tahun ke depan Asia akan memainkan peran yang semakin dominan dalam perekonomian dunia.

“Jika Asia tetap berkomitmen pada kerja sama terbuka dan menolak persaingan zero-sum, maka tahun 2050 dapat menjadi abad Asia,” kata Airlangga.

Berdasarkan proyeksi tersebut, China diperkirakan menjadi ekonomi terbesar di Asia dengan nilai PDB hampir 58 triliun dolar AS pada 2050. Posisi kedua diperkirakan ditempati India dengan PDB sekitar 44 triliun dolar AS.

Sementara itu, Indonesia diprediksi berada di posisi ketiga dengan nilai PDB sekitar 10 hingga 11 triliun dolar AS. Jepang diperkirakan memiliki PDB sekitar 8 hingga 9 triliun dolar AS, sedangkan Korea Selatan diproyeksikan mencatatkan PDB sekitar 3 hingga 4 triliun dolar AS pada periode yang sama.

“Alih-alih terfragmentasi, kita harus memperkuat konektivitas. Alih-alih proteksionisme, kita harus memperkuat perdagangan terbuka berbasis aturan,” ujarnya.

Airlangga juga menyoroti peran kawasan ASEAN yang diperkirakan akan menjadi salah satu blok ekonomi utama dunia dalam 25 tahun mendatang. Saat ini, kawasan ASEAN memiliki PDB kolektif sekitar 4,13 triliun dolar AS.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berpotensi memicu ketidakpastian ekonomi dunia. Menurutnya, hubungan antarnegara besar kini semakin dipengaruhi oleh kepentingan strategis dan politik yang bersifat transaksional.

Airlangga menilai tren proteksionisme juga meningkat dan berpotensi menurunkan kepercayaan terhadap sistem perdagangan multilateral. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), misalnya, masih menghadapi tantangan dalam mendorong kemajuan pada isu perdagangan digital dan penguatan rantai pasok global.

Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menghadapi kesulitan dalam menjaga efektivitas multilateralisme di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta berbagai krisis global yang semakin kompleks.

Situasi geopolitik di Timur Tengah juga turut memicu ketidakpastian global, terutama akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kondisi tersebut berdampak pada fluktuasi harga energi dunia.

Berdasarkan data per 10 Maret 2026, harga minyak Brent tercatat sekitar 90,42 dolar AS per barel. Sebelumnya harga minyak sempat melonjak hingga lebih dari 100 dolar AS per barel akibat penutupan Selat Hormuz yang dipicu eskalasi konflik di kawasan tersebut. (kom)