Naradaily-Perserikatan Bangsa-Bangsa menyambut positif dialog antara Amerika Serikat dan China, serta berharap kedua negara dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk menyelesaikan berbagai perbedaan melalui jalur negosiasi.
Wakil juru bicara PBB, Farhan Haq, mengatakan pihaknya mengapresiasi komunikasi antara dua negara besar tersebut. “Jelas, kami menghargai semua dialog antara dua negara penting seperti Amerika Serikat dan China, dan kami ingin mereka menggunakan momen seperti ini agar mereka dapat menyelesaikan perbedaan mereka melalui dialog,” kata Haq kepada wartawan, Rabu (13/5/2026).
Pernyataan itu disampaikan saat Haq menjawab pertanyaan terkait harapan PBB terhadap pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, khususnya mengenai potensi pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sebelumnya pada Rabu (13/5), Donald Trump tiba di Beijing untuk menjalani kunjungan kenegaraan selama tiga hari. Kunjungan tersebut menjadi lawatan pertama pemimpin Amerika Serikat ke China dalam sembilan tahun terakhir.
Meski demikian, Haq menegaskan PBB tidak berharap persoalan Selat Hormuz dapat diselesaikan hanya oleh AS dan China semata.
Situasi di kawasan itu memanas setelah pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Kemudian, pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil. Donald Trump lalu memperpanjang masa gencatan senjata guna memberikan waktu kepada Iran untuk mengajukan “proposal terpadu.”
Eskalasi konflik tersebut sempat mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar global. Kondisi itu turut memicu kenaikan harga bahan bakar dunia. (kom)