Naradaily-Kekeringan yang melanda wilayah hulu Sungai Ciliwung makin parah. Debit air di Bendungan Katulampa, Kota Bogor, yang biasanya tumpah ruah, kini kembali mencapai titik nol sentimeter pada Rabu (29/7/2026).
Bahkan, berdasarkan catatan data, kali ini kekeringan yang melanda bendungan tersebut dengan durasi yang lebih lama dibandingkan awal Juli. Kondisi ini berpotensi mengganggu pasokan air baku sekaligus mengancam ketersediaan air tanah di Bogor hingga Jakarta.
Petugas Bendung Katulampa, Muhammad Alwan, mengatakan kondisi debit nol terjadi secara berulang dengan rentang waktu yang semakin panjang. Fenomena tersebut menjadi indikasi kawasan hulu Sungai Ciliwung mulai mengalami kekeringan yang makin serius.
“Titik nol sudah terjadi sejak awal Juli. Waktu itu berlangsung sekitar tiga hari. Setelah sempat naik ke kondisi normal, sekarang kembali nol dengan durasi yang lebih lama,” ujar Alwan, dalam keterangan kepada wartawan, Rabu (29/7/2026).
Ia menjelaskan, pada pekan kedua Juli tinggi muka air sempat kembali ke level normal sekitar 10 sentimeter. Namun, kondisi itu tidak bertahan lama karena debit kembali turun hingga mencapai nol selama hampir sepekan.
“Jadi terus terjadi mulai awal Juli, sempat tiga hari, terus hampir seminggu. Yang sekarang ini sudah seminggu lagi,” imbuhnya.
Akibat kondisi tersebut, debit Sungai Ciliwung kini berada di bawah 4.000 liter per detik. Sebagian besar aliran, sekitar 3.460 liter per detik, dialokasikan untuk kebutuhan irigasi melalui anak Sungai Kalibaru, sedangkan sisanya digunakan untuk penggelontoran Sungai Ciliwung.
Sebelumnya, kondisi Bendung Katulampa yang berada di bawah titik nol telah berdampak pada penyediaan air baku bagi PDAM Tirta Kahuripan yang melayani wilayah Kabupaten Bogor dan Kota Depok. Jika kekeringan terus berlanjut, kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu cadangan air tanah di kawasan Bogor hingga Jakarta. (sic)