Naradaily-Kepulan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah picu kemacetan panjang. Pasalnya, kepulan asap tebal mempengaruhi jarak pandang pengendara di jalan raya.

Salah satu titik kebakaran yang cukup parah terjadi di kawasan Jalan Tjilik Riwut Kilometer 10, Kelurahan Petuk Ketimpun. Kepulan asap tebal menutupi jalur Palangka Raya-Sampit yang sempat memicu kemacetan panjang karena jarak pandang pengendara berkurang hingga di bawah 100 meter.

Tim Satuan Tugas (Satgas) Karhutla gabungan yang tiba di lokasi langsung melakukan pemadaman untuk mengendalikan kepulan asap agar tidak membahayakan pengendara. Warga sekitar bersama sejumlah relawan turut membantu mengatur arus lalu lintas guna mencegah kecelakaan akibat minimnya jarak pandang.

Agus Pece, warga setempat, mengatakan lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut. Karakteristik lahan gambut membuat asap yang dihasilkan jauh lebih tebal dibandingkan kebakaran di lahan biasa.

“Sudah satu jam berlalu kebakaran lahan ini membuat asap sangat tebal dan bikin kemacetan di pinggir jalan lintas Palangkaraya- Sampit. Anginnya cukup kencang,” kata Agus saat kepada awak media, Sabtu (29/8/2026).

Sementara itu, menurut keterangan Fajar, salah satu anggota Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Borneo Sektor, menjelaskan titik api sebelumnya muncul di kawasan Jalan Naga Sari. Embusan angin kencang membuat kobaran api dengan cepat merambat hingga mencapai pinggir Jalan Tjilik Riwut Kilometer 10.

Proses pemadaman di lapangan menghadapi sejumlah kendala, salah satunya karena minimnya sumber air. Petugas terpaksa mengandalkan sumur bor milik warga karena jumlah armada truk tangki yang tersedia tidak mencukupi untuk memasok kebutuhan air pemadaman.

“Kalau untuk luasan lahan yang terbakar ini kira-kira sekitar 2 hektare lebih. Upaya kami hanya bisa melakukan penyekatan api, agar tidak mengenai tempat usaha dan tempat tinggal warga,” kata Fajar.

Eskalasi karhutla di Palangkaraya meningkat dalam beberapa hari terakhir, terutama di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap kualitas udara di Kota Palangkaraya yang kini masuk kategori sangat tidak sehat.

Berdasarkan pemantauan indeks kualitas udara, konsentrasi partikel PM2,5 di Palangkaraya tercatat mencapai 464 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, titik api kini tersebar di lima kecamatan, yakni Jekan Raya, Pahandut, Sebangau, Bukit Batu, dan Rakumpit. Upaya penanganan karhutla masih terus dilakukan oleh Satgas Karhutla, baik dari Pemerintah Kota Palangka Raya maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. (sic)