Naradaily-Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendukung pemanfaatan rumah gadang sastrawan Minang di Desa Sirukam, Sumatera Barat, jadi museum sekaligus perpustakaan. Rumah gadang itu milik Aman Datuk Madjoindo yang saat ini dikelola oleh keluarga.
Fadli menyampaikan dukungan itu saat bertemu Ketua Yayasan Aman Datuk Madjoindo atau YAMANDO Boy Rafli Amar. Menurut Fadli, bangunan bersejarah dapat difungsikan sebagai warisan hidup atau living heritage, bukan hanya dipertahankan secara fisik.
“Rumah gadang tersebut bisa kita manfaatkan menjadi museum atau perpustakaan. Kalau nanti rumah tersebut dijadikan museum, mungkin bisa kita bantu supaya nanti rumahnya ditata sedikit dan dijadikan suatu museum atau perpustakaan,” kata Fadli dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (8/9/2026).
Ia menilai, museum tersebut perlu memiliki tata pamer yang baik meski berada di desa. Kementerian Kebudayaan juga dapat membantu melalui sarana, prasarana, serta pendampingan teknis.
Fadli mengatakan Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kebudayaan dapat dilibatkan untuk melakukan asesmen, pendataan aset, hingga pendampingan dalam proses revitalisasi. Selain bangunan, perhatian juga diarahkan pada pelestarian tradisi lisan, sastra, dan adat istiadat.
Fadli mendorong unsur budaya lokal, termasuk kesusastraan, dimasukkan sebagai muatan lokal di sekolah agar dapat dikenalkan sejak dini kepada generasi muda. Aman Datuk Madjoindo dikenal sebagai salah satu sastrawan Minang yang banyak berkarya dalam sastra anak.
Ketua YAMANDO Boy Rafli Amar mengatakan, rumah gadang di Desa Sirukam saat ini masih dalam kondisi sederhana. Yayasan ingin memanfaatkannya sebagai taman bacaan atau rumah budaya.
“Kami mendorong rumah gadang yang kondisinya sangat sederhana bisa dijadikan taman bacaan atau rumah budaya yang dapat difungsikan sebagai tempat sosialisasi literasi sekaligus wisata budaya,” kata Boy Rafli. Menurut Boy Rafli, karya-karya sastrawan Nusantara juga perlu terus dikenalkan kepada generasi muda melalui bahan bacaan yang sesuai usia.
Rencana pemanfaatan rumah gadang tersebut akan diarahkan tidak hanya untuk menyimpan karya Aman Datuk Madjoindo, tetapi juga menjadi ruang literasi dan kegiatan budaya. (sic)