Naradaily-Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menempati posisi teratas dalam simulasi elektabilitas calon wakil presiden (cawapres) untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Berdasarkan hasil survei terbaru Parameter Politik Indonesia (PPI), Dedi memperoleh elektabilitas sebesar 21 persen, mengungguli Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mencatatkan 14,2 persen.

Hasil survei tersebut dipaparkan Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno dalam peluncuran Survei Nasional bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Jakarta, Minggu.

Di bawah Dedi dan Gibran, terdapat Agus Harimurti Yudhoyono dengan elektabilitas 7,1 persen, disusul Anies Baswedan sebesar 7 persen. Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperoleh 4,8 persen dan Mahfud MD sebesar 4,4 persen.

Sejumlah tokoh lainnya juga masuk dalam simulasi cawapres. Sherly Tjoanda meraih elektabilitas 3,2 persen, sedangkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memperoleh 3,1 persen. Berikutnya, Ganjar Pranowo mencatatkan 2,6 persen dan Teddy Indra Wijaya sebesar 1,4 persen.

Muhaimin Iskandar dan Kaesang Pangarep masing-masing memperoleh elektabilitas 0,9 persen. Sementara itu, Susi Pudjiastuti meraih 0,8 persen, Anis Matta dan Zulkifli Hasan masing-masing 0,7 persen, serta Bahlil Lahadalia sebesar 0,5 persen.

Nama-nama lain yang turut masuk dalam simulasi tersebut adalah Andi Amran Sulaiman, Raffi Ahmad, Sudaryono, Erick Thohir, Emil Dardak, dan Rieke Diah Pitaloka. Masing-masing tokoh tersebut memperoleh elektabilitas sebesar 0,1 persen.

Dalam survei yang sama, sebanyak 3,5 persen responden memilih nama lain, sedangkan 20,8 persen tidak memberikan jawaban.

Selain mengukur elektabilitas, survei PPI juga memotret tingkat pengenalan publik terhadap sejumlah tokoh nasional. Hasilnya, Gibran Rakabuming Raka memiliki tingkat pengenalan sebesar 93,8 persen, berada di urutan kedua setelah Presiden Prabowo Subianto yang mencapai 96,8 persen.

Anies Baswedan menempati posisi berikutnya dengan tingkat pengenalan 90,9 persen, disusul Ganjar Pranowo sebesar 85,8 persen dan Dedi Mulyadi sebesar 84,3 persen.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengenalan publik terhadap seorang tokoh tidak selalu sejalan dengan posisinya dalam simulasi elektabilitas cawapres. Meski Gibran memiliki tingkat pengenalan lebih tinggi dibandingkan Dedi, hasil simulasi elektabilitas dalam survei ini menempatkan Dedi di posisi teratas.

Namun, hasil survei tersebut merupakan gambaran preferensi responden pada saat pengumpulan data dilakukan dan bukan prediksi pasti hasil Pilpres 2029. Elektabilitas para tokoh masih dapat berubah seiring perkembangan politik, perubahan persepsi publik, dan dinamika pencalonan menjelang pemilu.