Naradaily-Global Chief Economist Juwai IQI, Shan Saeed, menilai ada tiga variabel kunci kebijakan ekonomi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menjadi fondasi kuat perekonomian Indonesia, yakni stabilitas makroekonomi, kedisiplinan fiskal, dan kredibilitas pertumbuhan jangka panjang.
“Ketiganya menjadi fondasi yang memberi kepercayaan besar bagi para pelaku usaha dan investor internasional,” kata Saeed dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (14/11/2025).
Menurut Saeed, disiplin fiskal menjadi kekuatan utama. Pemerintah menjaga defisit anggaran di sekitar 2,7 persen terhadap PDB, sementara rasio utang publik tetap di bawah 40 persen. Langkah ini mempertegas rekam jejak Indonesia sebagai negara dengan tata kelola makro yang stabil, terutama ketika banyak negara lain menghadapi pelemahan fiskal.
Dalam aspek moneter, inflasi disebut terkendali. Inflasi inti diperkirakan berada pada kisaran 2,5–3,2 persen, yang mencerminkan kebijakan moneter Bank Indonesia yang terukur serta stabilnya rantai pasok nasional. “Stabilitas harga ini dinilai menghasilkan kepastian yang dibutuhkan rumah tangga maupun pelaku industri,” ujarnya.
Saeed juga menyoroti stabilitas rupiah yang dianggap menjadi jangkar kepercayaan baru berkat kuatnya neraca transaksi berjalan, manajemen devisa pemerintah, dan arus modal masuk yang positif. “Di tengah volatilitas global, rupiah muncul sebagai salah satu mata uang paling stabil di kawasan,” tambahnya.
Secara keseluruhan, disiplin fiskal dan stabilitas makro yang diterapkan Presiden Prabowo diyakini menjadi fondasi utama penguatan ekonomi Indonesia pada 2025. Saeed menilai arah kebijakan ekonomi Prabowo telah membawa Indonesia menjadi salah satu kekuatan baru di Asia. (kom)