Naradaily-Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa kelebihan pasokan minyak dunia menjadi penyebab utama turunnya harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Desember 2025. ICP tercatat turun ke level 61,10 dolar AS per barel, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan penurunan ICP pada Desember 2025 dipicu kekhawatiran pasar terhadap narasi super glut atau kelebihan pasokan, seiring kondisi oversupply minyak dunia yang dipengaruhi tingginya produksi Amerika Serikat. “Penurunan angka ICP pada bulan Desember 2025 diakibatkan kekhawatiran pasar akan narasi super glut atau kelebihan pasokan, serta kondisi oversupply minyak dunia yang dipengaruhi oleh produksi Amerika Serikat yang tinggi,” ujar Laode dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (16/1/2026).

Selain produksi Amerika Serikat, penurunan harga minyak juga dipengaruhi oleh peningkatan produksi negara-negara OPEC+. Laode menjelaskan terdapat kenaikan produksi OPEC+ pada November 2025 dibandingkan November 2024 secara month over month, menjadi 43,1 juta barel per hari. OPEC juga merevisi proyeksi pertumbuhan produksi negara non-OPEC+ tahun 2025 dalam publikasi Desember 2025, naik sebesar 40 ribu barel per hari dibandingkan November 2025 menjadi 0,95 juta barel per hari.

Di sisi permintaan, S&P Global merevisi proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia tahun 2025 dengan penurunan sebesar 16 ribu barel per hari menjadi 730 ribu barel per hari pada publikasi Desember 2025 dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, Badan Energi Internasional atau IEA memproyeksikan akan terjadi surplus minyak dunia pada 2026 sebesar 3,7 hingga 4 juta barel per hari, yang bahkan melebihi kondisi stok saat masa pandemi.

Laode menambahkan, faktor geopolitik juga turut memengaruhi penurunan ICP, khususnya risiko konflik Rusia-Ukraina yang berpotensi mereda setelah adanya penawaran pembatalan aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan NATO. Di saat yang sama, pejabat Rusia menyampaikan proyeksi kenaikan produksi minyak pada 2025 menjadi 10,36 juta barel per hari dan diperkirakan kembali meningkat pada 2026 hingga mencapai 10,54 juta barel per hari. “Penurunan ICP bulan Desember disebabkan peningkatan suplai minyak dunia,” kata Laode.

Untuk kawasan Asia Pasifik, perubahan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh penurunan crude throughput China yang tercatat turun 0,9 persen secara month over month pada November 2025 menjadi 14,86 juta barel per hari. Angka tersebut merupakan level terendah dalam enam bulan terakhir.

Secara keseluruhan, ICP Desember 2025 turun sebesar 1,73 dolar AS per barel dibandingkan ICP November 2025 yang berada di level 62,83 dolar AS per barel. Penetapan ICP Desember 2025 sebesar 61,10 dolar AS per barel tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 10.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Bulan Desember 2025.

Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama dunia pada Desember 2025 dibandingkan November 2025 juga mengalami penurunan. Dated Brent turun 0,95 dolar AS per barel dari 63,65 dolar AS per barel menjadi 62,70 dolar AS per barel. WTI (Nymex) turun 1,61 dolar AS per barel dari 59,48 dolar AS per barel menjadi 57,87 dolar AS per barel, sementara Brent (ICE) turun 2,02 dolar AS per barel dari 63,66 dolar AS per barel menjadi 61,64 dolar AS per barel.

Selain itu, Basket OPEC turun 2,61 dolar AS per barel dari 64,46 dolar AS per barel menjadi 61,85 dolar AS per barel. Rata-rata ICP minyak mentah Indonesia juga mengalami penurunan sebesar 1,73 dolar AS per barel dari 62,83 dolar AS per barel menjadi 61,10 dolar AS per barel. (kom)