Naradaily-PT Kereta Api Indonesia (Persero) membatalkan sebanyak 82 perjalanan kereta api penumpang akibat banjir yang merendam jalur rel di Daerah Operasi 4 Semarang, khususnya wilayah Pekalongan, Jawa Tengah. Gangguan perjalanan ini dipicu oleh jebolnya tanggul yang diperparah dengan kondisi air pasang laut.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu (18/1/2026), menjelaskan bahwa cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama terjadinya banjir yang berdampak langsung pada operasional kereta api. Kondisi tersebut menyebabkan pembatalan, keterlambatan, hingga gangguan perjalanan kereta penumpang dan barang.

“Memang cuaca ekstrem akhir-akhir ini dalam 2-3 hari ini menyebabkan pembatalan, keterlambatan di perjalanan kereta kita. Jadi yang terdampak itu ada 82 kereta penumpang, kemudian ada 16 kereta barang yang terdampak pembatalan, dan kemudian juga ada sekitar 76 kereta yang mengalami keterlambatan,” ujar Bobby.

Ia mengungkapkan gangguan awal terjadi di kilometer 88+4/8 di antara Stasiun Kaliwungu dan Stasiun Kalibodri. Pada 17 Januari, KAI sempat melakukan operasi pemulihan dengan mengangkat rel dan menebarkan sekitar 105 meter kubik balas agar jalur dapat kembali dilalui.

Namun, kondisi kembali memburuk pada malam hari di tanggal yang sama akibat luapan dua sungai yang mengapit jalur rel di kilometer 88+900 hingga 89+100, tepatnya di lintas antara Stasiun Pekalongan dan Stasiun Sragi. Luapan air tersebut menyebabkan jalur rel kembali terendam banjir. “Itu menyebabkan jalur itu terendam banjir,” ungkap Bobby.

Menurutnya, banjir kali ini terjadi akibat kombinasi jebolnya tanggul dan pasang air laut yang terjadi secara bersamaan. Kondisi tersebut membuat aliran air dari hulu tidak dapat segera mengalir ke laut sehingga menggenangi jalur rel.

Ia menambahkan kejadian seperti ini sebelumnya belum pernah terjadi di wilayah Pekalongan. Selama ini, aliran air dari wilayah atas dengan curah hujan tinggi biasanya dapat mengalir dengan cepat menuju laut karena sistem aliran sungai yang telah difasilitasi dengan baik.

“Tapi kali ini itu adalah bertepatan dengan ada tanggul yang jebol dan juga air pasang terjadi. Pasang terjadi juga sehingga air luncuran air dari atas itu tidak cepat bisa turun ke bawah,” jelasnya.

Saat ini, jalur rel yang terdampak sudah dapat kembali dilalui, meskipun KAI masih memberlakukan pembatasan kecepatan demi menjamin keselamatan perjalanan kereta api.

“Pada saat ini kami sudah melakukan operation recovery di jalur itu dan sampai saat ini memang sudah bisa dilewati, ya, walaupun dengan pembatasan kecepatan,” kata Bobby.

Ia menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan kementerian, lembaga terkait, serta badan-badan teknis untuk segera melakukan pemulihan tanggul yang jebol. Selain itu, koordinasi dengan para pemangku kepentingan juga dilakukan untuk merencanakan perbaikan permanen jangka panjang.

Bobby menambahkan, tindak lanjut akan segera dilakukan mulai Senin (19/1) agar upaya mitigasi dan perbaikan permanen dapat dilaksanakan, terutama di daerah-daerah dalam pengawasan khusus di wilayah Daop 4 Semarang.

“Besok kami akan tindak lanjuti segera untuk supaya kita bisa memitigasi dan melakukan perbaikan permanen di dapsus-dapsus, daerah dalam pengawasan khusus, di Daop 4 ini,” ujarnya.

Sebagai langkah penanganan, KAI menerapkan tiga strategi mitigasi, yakni percepatan pemulihan jalur, pemberian layanan pemulihan kepada penumpang terdampak, serta penyediaan refund tiket bagi penumpang yang perjalanannya dibatalkan. (kom)