Naradaily-Jembatan penghubung di Kampung Citoke, Desa Mekarsari, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, ambruk, putus akses warga. Tidak hanya menggangu mobilitas warga, kondisi ini turut mengganggu aktivitas pendidikan, bahkan sejumlah siswa sekolah dasar (SD) terpaksa kembali ke rumah karena tidak bisa melintasi jembatan menuju sekolah.

Jembatan tersebut ambruk setelah dilintasi kendaraan bermuatan berat yang sedang mengangkut material bangunan. Padahal, jembatan itu merupakan akses utama bagi 42 kepala keluarga di Kampung Citoke.

Akibat jembatan putus, warga kesulitan melakukan berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, berbelanja, hingga mengantar anak ke sekolah. Salah seorang warga, Supiani, mengatakan ambruknya jembatan membuat aktivitas warga terganggu.

Anak-anak sekolah menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak karena tidak adanya jalur alternatif. “Aktivitas sehari-hari sangat terganggu karena banyak kuli bingung mau kerja dan anak sekolah terpaksa balik lagi karena jalan tidak bisa dilalui,” ujar Supiani, Selasa (25/8/2026).

Menurut Supiani, sejumlah pelajar memilih kembali ke rumah karena khawatir melintasi sisa struktur jembatan yang rusak. Mereka juga tidak memiliki akses lain untuk menuju sekolah dari perkampungan tersebut.

Sementara itu, warga lainnya, Surni, mengatakan jembatan tersebut selama ini menjadi akses penting untuk mengantar anak-anak ke sekolah dan menjalankan berbagai aktivitas rumah tangga. “Mau ngantar anak sekolah jadi terganggu, ibu-ibu mau aktivitas ke pasar juga terganggu karena jembatan putus,” imbuhnya.

Selain menghambat aktivitas pendidikan, ambruknya jembatan juga menyulitkan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akses menuju pasar tradisional ikut terganggu karena jembatan menjadi jalur penyeberangan utama warga.

Warga juga mengkhawatirkan keselamatan pejalan kaki yang mencoba melewati sisa jembatan. Warga lainnya, Encuk, berharap pemerintah segera membangun jembatan sementara agar aktivitas masyarakat, terutama anak-anak sekolah, dapat kembali berjalan.

“Harapan segera dibangun lagi jembatan biar anak-anak aktivitas lagi. Kalau begini, jangankan motor, orang juga tidak bisa lewat,” ujar Encuk. Jembatan yang memiliki ukuran sekitar 2,5 meter persegi tersebut diketahui dibangun pada 2017. Selama ini, jembatan itu menjadi salah satu akses penting bagi warga Kampung Citoke. (sic)