Naradaily-Hingga hari kelima operasi penyelamatan oleh tim penyelamat Nepal dan China, masih banyak orang hilang yang belum ditemukan. Kondisi cuaca dan kenaikan permukaan air menjadi kendala utama.
Melansir Reuters,Senin (31/8/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal Lok Bahadur Chhetri mengatakan, negaranya membutuhkan bantuan internasional untuk sejumlah bidang khusus, termasuk operasi penyelamatan di terowongan, pengujian DNA, penyimpanan jenazah dalam fasilitas berpendingin, serta identifikasi secara forensik terhadap jenazah yang telah mengalami pembusukan. Menurut Chhetri, para ahli dari India dan China telah berada di lokasi untuk membantu membuka terowongan dan mendukung operasi penyelamatan.
Beberapa hari setelah keluarga korban mendatangi rumah sakit, kamar jenazah, dan pusat bantuan untuk mencari anggota keluarga yang hilang, otoritas Nepal mulai memakamkan secara massal ratusan korban yang belum teridentifikasi. Di Distrik Chitwan yang tidak terdampak langsung bencana, sejumlah jenazah yang terseret arus dari wilayah Rasuwa yang dilanda banjir terbawa melalui sistem sungai hingga ke Sungai Narayani.
Otoritas setempat memotret jenazah, mengambil sampel DNA, serta mencatat informasi identitas dengan harapan keluarga korban masih dapat mengenali kerabat mereka meskipun telah dimakamkan. “Lebih dari setengah jenazah yang sejauh ini kami temukan sudah tidak dapat dikenali,” kata petugas kepolisian Anil Thapa dilansir dari Reuters.
Setelah memakamkan lebih dari 100 jenazah tanpa identitas pada Sabtu (29/8/2026), otoritas setempat kembali menggali makam tambahan pada Minggu (30/8/2026) untuk ratusan jenazah lainnya. CCTV melaporkan banjir tersebut terjadi akibat ketidakstabilan gletser yang berkaitan dengan dampak pemanasan global dalam jangka panjang.
Media pemerintah China menyebut kondisi tersebut sebagai karakteristik baru dan menonjol dari bencana yang berkaitan dengan kriosfer di Dataran Tinggi Tibet. Berdasarkan temuan ilmuwan China yang dikutip CCTV, aliran lumpur dari wilayah Nepal mencapai perlintasan perbatasan Gyirong dalam waktu sekitar enam hingga tujuh menit.
Rekaman kamera pengawas yang beredar luas memperlihatkan derasnya air dan material longsoran menerjang bangunan ketika warga berusaha menyelamatkan diri. China mengerahkan lebih dari 2.100 personel penyelamat dan mengalokasikan sedikitnya 220 juta yuan atau sekitar USD32,7 juta untuk mendukung upaya penanganan bencana.
Peralatan dan bantuan juga dikirim menggunakan pesawat ke lokasi operasi. Sementara itu, personel militer China menggunakan peralatan pendeteksi kehidupan untuk mencari orang-orang yang masih hilang. (sic)