Naradaily-Gempa bumi dengan magnitudo 5,6 mengguncang wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (20/8/2026) pagi. Getaran gempa yang terjadi pada pukul 05.45 WIB itu dirasakan oleh masyarakat sekitar.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa berlokasi pada koordinat 8,30 derajat lintang selatan dan 120,59 derajar bujur timur (BT). Pusat gempa berada di darat sekitar 37 kilometer timur laut Ruteng , pada kedalaman 10 kilometer.
“Hati-hati terhadap gempa bumi susulan yang mungkin terjadi,” tulis BMKG dalam situs web resminya, hari ini. Hingga saat ini belum ada laporan mengenai dampak kerusakan maupun ada tidaknya korban jiwa akibat gempa tersebut.
Sementara itu, korban meninggal dunia akibat gempa magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) Sabtu (15/8/2026) kembali bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi 71 orang meninggal dunia setelah satu korban tambahan ditemukan di Kabupaten Nagekeo.
Berton Suar Pelita Panjaitan mengatakan, pemerintah bersama kementerian dan lembaga terkait terus bergerak menangani para pengungsi di sejumlah area terdampak bencana. “Jumlah korban bertambah satu orang menjadi 71 meninggal dunia, yaitu di Kabupaten Nagekeo,” ungkap Berton dalam konferensi pers virtual, dikutip Kamis (20/8/2026).
Berton juga menyampaikan belasungkawa kepada seluruh warga yang menjadi korban gempa di NTT. “Kami segenap pemerintah maupun kementerian/lembaga mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya keluarga kita yang saat ini ada di tempat pengungsian dan daerah terdampak,” lanjutnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat setidaknya sebanyak 3.002 gempa susulan terjadu hingga Rabu (19/8/2026) pukul 14.00 WIB. Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menyampaikan, kekuatan gempa susulan tersebut bervariasi mulai dari magnitudo 1,1 hingga 6,2.
Dari ribuan gempa susulan itu, sebanyak 86 gempa dirasakan oleh masyarakat. Sementara itu, 25 gempa di antaranya tercatat sebagai gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0. Nelly menjelaskan, tingginya frekuensi gempa susulan merupakan proses alamiah setelah terjadinya gempa utama.
Fenomena tersebut terjadi akibat pelepasan energi di dalam kerak bumi untuk mencapai keseimbangan baru. “Gempa susulan ini cukup banyak karena itu adalah bagian dari proses penyesuaian kerak bumi atau pelepasan energi, sehingga mendapatkan keseimbangan yang baru setelah terjadinya gempa utama yang besar,” jelas Nelly.
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan selama aktivitas gempa susulan masih berlangsung. Masyarakat juga diminta terus memantau informasi serta mengikuti arahan resmi dari pemerintah selama proses penanganan dan pemulihan bencana. (sic)