Naradaily-Momen libur Nataru, Bandara Soekarno-Hatta waspada risiko migrasi penyakit. Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Soekarno-Hatta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi migrasi malaria.

Pengawasan dilakukan dengan memperketat survei kesehatan pada penerbangan domestik. Kepala BBKK Soekarno-Hatta Naning Nugrahini mengatakan, peningkatan pengawasan dilakukan mengingat lonjakan mobilitas masyarakat selama masa libur panjang.

“Ini kami lakukan pada saat puncak acara hari besar karena kami ingin mengetahui adanya migrasi malaria dari daerah endemik dengan kasus tinggi datang ke sini,” ujar Naning, dikutip Sabtu (22/11/2025). Menurut Naning, survei migrasi malaria akan dibarengi pemeriksaan visual oleh petugas kesehatan di seluruh terminal.

Jika ditemukan indikasi kasus lanjutan, pihak BBKK Soekarno-Hatta akan melakukan pemeriksaan laboratorium di fasilitas kesehatannya. “Kami juga menambah petugas kesehatan. Untuk Nataru, dari periode reguler kami tambahkan totalnya 40 petugas di terminal domestik saja,” jelasnya.

Selain malaria, BBKK Soekarno-Hatta juga memusatkan perhatian pada penyakit berbahaya dari rute internasional. Salah satu negara yang menjadi sorotan adalah Ethiopia, yang saat ini tengah mengalami wabah virus Marburg patogen mematikan dengan gejala mirip penyakit Ebola.

Virus Marburg dapat menyebabkan perdarahan hebat, demam tinggi, muntah, dan diare, dengan masa inkubasi hingga 21 hari. Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, dan tingkat fatalitasnya mencapai 25-80 persen.

“Petugas kesehatan kami akan menganalisis faktor risiko. Sebelum mereka turun dari pesawat, kami akan melakukan skrining. Jika mereka menunjukkan hasil positif, kami bawa ke pos kesehatan untuk diperiksa ulang, termasuk pemeriksaan laboratorium bila diperlukan,” tegas Naning.

Peran Aplikasi All Indonesia

Faktor risiko penumpang juga dipantau melalui aplikasi All Indonesia yang wajib diisi oleh penumpang internasional. Informasi dari aplikasi ini membantu petugas menentukan apakah diperlukan pemeriksaan visual, skrining dengan thermal scanner, atau tindak lanjut lainnya. Dia mengimbau seluruh penumpang internasional agar mengisi formulir dengan jujur demi mencegah penyebaran penyakit dari luar negeri.

“Kalau kemudian ada penyakit, jujur saja pada petugas supaya kami bisa mencegah orang lain dari sakit. Kalau kita bohong, kita sama saja tidak memberikan keterangan sebenarnya dan membantu menyebarkan penyakit itu ke masyarakat luas,” tuntasnya. (sic)