Naradaily-Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan pola penyebaran paham radikal dan terorisme kini bergeser ke ruang digital. Internet dimanfaatkan kelompok teroris untuk melakukan rekrutmen, propaganda, hingga pembinaan anggota.
Kepala BNPT Eddy Hartono mengatakan perkembangan tersebut menjadi tantangan baru dalam upaya pencegahan terorisme. Karena itu, BNPT memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Sosial untuk melakukan rehabilitasi dan reintegrasi sosial terhadap masyarakat yang terpapar paham radikal.
“Internet menjadi sarana yang cukup signifikan dalam kegiatan kelompok terorisme. Yaitu rekrutmen, propaganda, dan pembinaan teror,” kata Eddy saat mendampingi Menteri Sosial Saifullah Yusuf meninjau layanan rehabilitasi deradikalisasi di Sentra Handayani, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Menurut Eddy, sepanjang 2024 hingga akhir 2025 BNPT telah melakukan mitigasi terhadap sekitar 220 anak yang tersebar di 18 provinsi. Mereka menjalani rehabilitasi bersama Kementerian Sosial agar dapat pulih dari trauma dan kembali menjalani kehidupan secara normal.
Selain itu, BNPT juga membina sekitar 739 anak yang terpapar paham radikal melalui media sosial maupun kelompok daring. Pembinaan dilakukan mulai dari tahap identifikasi, rehabilitasi hingga reintegrasi sosial bersama Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Agama.
Eddy menegaskan kolaborasi lintas kementerian menjadi arahan Presiden dalam memperkuat pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme. Upaya tersebut difokuskan untuk melindungi anak, perempuan, dan remaja dari paparan paham radikal di ruang digital.
Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan Kemensos menerima penerima manfaat yang direkomendasikan BNPT untuk menjalani rehabilitasi di sentra milik Kemensos. Layanan yang diberikan meliputi rehabilitasi psikososial, rehabilitasi medis, pemberdayaan, hingga reintegrasi sosial ke lingkungan asal.
“Setelah di sini kita lakukan rehabilitasi. Ada layanan psikososial, rehabilitasi medis, pemberdayaan sampai ujungnya reintegrasi, bagaimana mereka bisa kembali ke lingkungan masing-masing,” ujar Gus Ipul.
Ia menjelaskan, selama menjalani rehabilitasi para penerima manfaat mendapat pendampingan dari BNPT bersama instansi terkait. Setelah dinyatakan siap kembali ke masyarakat melalui asesmen, mereka tetap memperoleh dukungan melalui berbagai program pemberdayaan.
Seperti bantuan modal usaha dan perbaikan rumah tidak layak huni. Kemudian, program strategis pemerintah lainnya.
Menurut Gus Ipul, sejak 2023 lebih dari 2.500 penerima manfaat telah mengikuti program deradikalisasi melalui kerja sama Kemensos dan BNPT. Program tersebut bertujuan memulihkan penerima manfaat agar mampu hidup mandiri dan kembali diterima di tengah masyarakat. (sic)