Naradaily-Peneliti dari Pusat Studi Politik dan Sosial Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka), Emaridial Ulza, menilai posisi Indonesia dalam perhatian dunia terancam “hilang” di tengah konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin, Emaridial menjelaskan bahwa berdasarkan laporan strategis Global Trust Intelligence (GTI), Indonesia saat ini menghadapi kondisi yang disebut sebagai strategic invisibility trap.
“Kondisi ini bukan berarti Indonesia dipersepsikan buruk oleh dunia internasional, melainkan justru tidak hadir dalam persepsi global sama sekali. Dalam dunia yang dipenuhi arus informasi cepat, negara yang tidak muncul dalam narasi global akan cenderung tidak diperhitungkan, baik dalam konteks investasi, diplomasi, maupun pengambilan keputusan strategis,” kata Emaridial.
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif international marketing dan neurosains keputusan kolektif, pelaku pasar global dan publik internasional tidak hanya merespons data, tetapi juga dipengaruhi oleh narasi yang sering muncul dan tertanam dalam ingatan.
Dalam konteks tersebut, negara yang tidak aktif membangun narasi berisiko kehilangan perhatian dunia meskipun memiliki kekuatan ekonomi besar.
“Fenomena ini terlihat jelas ketika dibandingkan dengan Iran. Meski berada dalam konflik besar, Iran tetap hadir di berbagai panggung global dan menjadi bagian dari percakapan dunia. Sementara itu Indonesia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil tidak muncul sebagai aktor dalam narasi global yang dianggap penting,” ujarnya.
Menurut Emaridial, kondisi ini bukan sekadar persoalan citra, tetapi juga berdampak langsung terhadap ekonomi. Ketika reputasi, narasi, dan persepsi terganggu secara bersamaan, dampaknya bisa berupa tertundanya investasi asing, meningkatnya biaya pinjaman, hingga potensi keluarnya modal dari dalam negeri.
Selain itu, laporan tersebut juga menyoroti tekanan ekonomi yang dihadapi Indonesia melalui konsep Keynesian Triple Squeeze, yakni kondisi ketika tiga pilar utama ekonomi—lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas—mengalami tekanan secara bersamaan tanpa adanya sektor penyangga seperti pada krisis sebelumnya.
Meski demikian, Emaridial menilai Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah keunggulan global, seperti keberhasilan menghimpun pajak ekonomi digital yang menempatkan Indonesia di tiga besar dunia, serta Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu investasi human capital terbesar di kawasan.
Namun, ia menilai keunggulan tersebut belum dikomunikasikan secara efektif di tingkat global.
“Di era saat ini, narasi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan faktor yang menentukan arah ekonomi sebuah negara. Ketika sebuah negara tidak mampu mendefinisikan dirinya sendiri, maka dunia tidak akan melihatnya sebagai aktor yang penting,” ucap Emaridial Ulza. (kom)