Naradaily-Presiden Prabowo Subianto menerima laporan dari Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dan KSAU Marsekal TNI M. Tonny Harjono bahwa bantuan untuk daerah-daerah terisolasi tidak lagi dilempar dari helikopter, melainkan didaratkan menggunakan metode “sling rope”. Dengan cara ini, bantuan bahan pangan yang dikirimkan ke para pengungsi dapat tetap utuh bentuknya dan terjaga kualitasnya.

Dalam rapat koordinasi di Posko Terpadu Penanganan Bencana di Lanud Sultan Iskandar Muda, Kabupaten Aceh Besar, Minggu malam, Presiden Prabowo menanyakan perkembangan distribusi bantuan udara kepada Kepala BNPB. “Semuanya sudah didorong logistik pakai udara, baik didaratkan helinya maupun secara airdrop,” jawab Kepala BNPB.

“Airdrop pakai payung?” tanya Presiden menindaklanjuti laporan tersebut.
“Ada yang pakai payung. Jadi kami tidak ada yang dilempar ke bawah, Bapak,” ujar Letjen Suharyanto dalam rapat.

Kepala BNPB juga melaporkan bahwa beberapa hari sebelumnya helikopter BNPB berhasil mendaratkan genset mobile PLN 250 kWh untuk rumah sakit di Kota Takengon, Aceh Tengah. Presiden Prabowo memuji laporan tersebut sebagai langkah positif dalam penanganan bencana.

Pada kesempatan yang sama, KSAU Marsekal TNI M. Tonny Harjono menambahkan bahwa terdapat tiga pesawat yang digunakan untuk penerjunan bantuan metode airdrop, yaitu Hercules, CN295, dan CASA C-212. “Untuk Casa 212 dan CN295 menggunakan helibox berisi sekitar 5 kilogram barang. Helibox itu didorong sesuai lokasi dan jatuh secara berputar sehingga tidak terlalu keras,” kata Tonny.

Untuk pesawat Hercules, setiap bundle bantuan memiliki berat sekitar 150 hingga 160 kilogram dan diterjunkan menggunakan parasut personel TNI yang telah kedaluwarsa. “Sudah dilaksanakan 700 helibox kita dropping, masih ada 500 helibox kotaknya kita cetak baru lagi,” tambahnya.

Dalam rapat tersebut juga dilaporkan bahwa lebih dari 700 desa atau gampong di Aceh masih terisolir. Rinciannya: 232 gampong di Kabupaten Bener Meriah, 295 gampong di Kabupaten Aceh Tengah, dan 216 gampong di Kabupaten Aceh Tamiang. Meski begitu, tim gabungan Kementerian Pekerjaan Umum dan TNI terus berupaya menembus wilayah tersebut menggunakan alat berat serta memasang jembatan bailey sebagai pengganti sementara jembatan yang rusak akibat banjir bandang. (kom)