Naradaily-Warga Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, mulai memasak menggunakan kayu bakar akibat keterbatasan pasokan gas LPG setelah banjir bandang dan tanah longsor membuat daerah tersebut terisolasi. “Gas gak ada, listrik gak ada. Ya sudah masak pake kayu,” ujar Ayu, salah seorang warga, Senin (8/12/2025).

Ia menjelaskan bahwa LPG menjadi barang langka dan langsung hilang dari pasaran sejak bencana terjadi. Dalam kondisi darurat dan tanpa suplai energi memadai, penggunaan kayu bakar menjadi satu-satunya pilihan bagi banyak keluarga.

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) juga mengubah kebiasaan warga dalam beraktivitas. Mereka yang biasanya menggunakan kendaraan kini berjalan kaki atau mengayuh sepeda. Jalanan di Takengon pun tampak lengang akibat sulitnya mendapatkan BBM. “Semua orang jalan kaki sekarang. Saya juga setiap malam jalan kaki ke kantor bupati, supaya bisa cas HP dan akses internet gratis,” kata Haris, warga lainnya.

Sudah 13 hari banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh Tengah. Sebanyak tujuh kecamatan dengan 98 desa masih terisolasi akibat akses jalan yang terputus dan tertimbun material. Bencana ini juga menelan korban jiwa, dengan 23 orang dilaporkan meninggal dunia dan 22 masih hilang. Ribuan warga terpaksa mengungsi.

Situasi semakin diperburuk oleh padamnya listrik total serta kerusakan jalur utama. Jalan Takengon–Bireuen lumpuh total, sementara jalur KKA menuju Lhokseumawe juga porak poranda. Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, telah menghubungi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya untuk meminta perhatian khusus terhadap percepatan perbaikan akses jalan KKA Takengon–Lhokseumawe.

Haili mengingatkan bahwa tanpa pemulihan akses darat, masyarakat berisiko menghadapi masalah baru berupa kelaparan. “Kami sangat memohon hal ini bisa menjadi perhatian Bapak Presiden,” ujar Haili Yoga dalam pesan suaranya kepada Teddy. (kom)