Naradaily-Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengingatkan mahasiswa untuk tetap menjaga integritas dalam menyampaikan kritik kepada pemerintah.

Menurut Yusril, kebebasan berpendapat dan menyampaikan kritik merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi yang harus terus dijaga. Namun, kritik yang disampaikan harus dilandasi niat yang tulus untuk membangun bangsa.

“Saya mendukung kebebasan mahasiswa dalam bersuara dan menyampaikan kritik. Namun kritik itu harus dilandasi integritas yang kuat sehingga benar-benar bertujuan untuk membangun bangsa,” kata Yusril saat konferensi pers di Kantor Ombudsman RI, Jakarta Selatan, Selasa (23/6/2026).

Yusril menyampaikan hal tersebut menanggapi pengakuan mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) yang menerima uang setelah bertemu dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sebagai mantan aktivis mahasiswa, ia mengaku prihatin atas peristiwa tersebut.

Meski demikian, Yusril tetap mengapresiasi sikap para mahasiswa yang mengakui kesalahan dan menyampaikan permintaan maaf kepada publik.

“Sebagai mantan aktivis mahasiswa saya prihatin dengan kejadian itu. Namun kami juga menghargai sikap mereka yang berterus terang mengakui kesalahan dan meminta maaf agar hal serupa tidak terulang,” ujarnya.

Menurut Yusril, integritas merupakan modal utama yang harus dimiliki mahasiswa karena mereka merupakan calon pemimpin dan pejabat publik di masa depan. Ia menilai nilai-nilai integritas yang dibangun sejak masa kuliah perlu dipertahankan agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai kepentingan saat menduduki jabatan publik.

“Kita berpesan kepada adik-adik mahasiswa supaya tetap menjaga integritas dan perjuangan itu harus murni,” katanya.

Yusril juga mengingatkan bahwa mahasiswa yang saat ini aktif menyampaikan kritik kepada pemerintah berpotensi menjadi pemimpin yang akan menggantikan generasi saat ini. Karena itu, ia meminta mahasiswa tetap teguh memegang prinsip dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang dapat mengurangi independensi perjuangan mereka.

“Karena ini soal waktu saja. Tetaplah tegar memegang teguh prinsip-prinsip dan jangan mudah terpengaruh oleh hal-hal seperti itu,” kata Yusril.

Sebelumnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menerima perwakilan mahasiswa yang menggelar aksi unjuk rasa di sejumlah titik di Jakarta dan berdialog dengan mereka di Istana Wakil Presiden pada Senin (22/6).

Belakangan, Koordinator Aksi sekaligus Ketua BEM Fakultas Hukum UBK M. Abdi Maludin mengakui menerima uang sebesar Rp20 juta setelah pertemuan tersebut dan menyampaikan permintaan maaf kepada publik. (kom)