Naradaily-PT PLN Nusantara Power Construction (PLN NPC) mengedepankan keandalan operasional dan kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan dalam setiap pembangunan pembangkit. Salah satunya diwujudkan melalui penerapan sistem Water Treatment Plant (WTP) dan Waste Water Treatment Plant (WWTP) pada PLTU Sorong 4×7 MW dan PLTU Sofifi 2×3 MW.
WTP merupakan sistem pengolahan air baku menjadi air bersih atau air demineralisasi yang dibutuhkan untuk menunjang proses operasional pembangkit. Sementara itu, WWTP berfungsi mengolah air limbah dari aktivitas operasional agar aman sebelum dibuang ke lingkungan atau dimanfaatkan kembali sesuai dengan kualitas hasil pengolahan dan ketentuan yang berlaku.
Direktur Utama PLN NPC, Hendra Fitria, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara keandalan energi dan tanggung jawab lingkungan. Pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan tidak hanya berorientasi pada tersedianya listrik, tetapi juga pada bagaimana pembangkit dioperasikan secara bertanggung jawab.
“Melalui penerapan sistem pengolahan air dan limbah yang sesuai, PLN NPC terus mendukung pengembangan infrastruktur energi yang andal, memperhatikan aspek lingkungan, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Hendra, dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (5/11/2026). Hendra menjelaskan pengolahan air limbah yang tepat, dapat membantu mengurangi kandungan polutan dan mengendalikan kualitas air sebelum dilepas ke lingkungan.
Pengawasan terhadap hasil pengolahan juga penting untuk memastikan air limbah memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. “Fungsi WTP dan WWTP tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sisa operasional, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pencegahan pencemaran dan perlindungan lingkungan di sekitar pembangkit,” ulasnya.
Dalam operasional pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), kualitas air memiliki peran penting untuk menjaga kinerja peralatan. Air yang digunakan dalam sistem boiler dan utilitas harus memenuhi persyaratan kualitas tertentu untuk membantu mencegah pembentukan kerak, mengurangi risiko korosi, serta melindungi peralatan utama, seperti boiler, turbin, dan jaringan perpipaan.
Karena itu, keberadaan WTP menjadi salah satu elemen pendukung efisiensi dan keandalan pembangkit. Secara umum, proses pengolahan air pada WTP dapat meliputi beberapa tahapan, mulai dari penampungan air baku di treated water pond, pengendapan partikel melalui clarifier, hingga penyaringan menggunakan multimedia filter.
Selanjutnya, air dapat dimurnikan dengan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk air laut atau Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO) untuk air payau dan air dengan kadar garam sedang. Air hasil pengolahan kemudian ditampung dalam storage tank sebelum digunakan untuk kebutuhan boiler dan utilitas sesuai spesifikasi sistem pembangkit.
Pemilihan teknologi dan tahapan pengolahan disesuaikan dengan karakteristik air baku serta kebutuhan operasional pembangkit. Di sisi lain, WWTP berperan dalam mengelola air limbah yang dihasilkan dari aktivitas operasional pembangkit.
Prosesnya dapat diawali dengan pengumpulan air limbah, dilanjutkan dengan equalization tank untuk menstabilkan karakteristik aliran, serta tahap netralisasi untuk mengendalikan tingkat keasaman atau pH. Setelah itu, limbah menjalani tahapan pengolahan lanjutan, termasuk proses pemisahan polutan, sebelum hasilnya dievaluasi untuk menentukan kelayakan pembuangan atau pemanfaatan kembali.
Penerapan WTP dan WWTP di PLTU Sorong 4×7 MW dan PLTU Sofifi 2×3 MW menunjukkan pentingnya integrasi antara kebutuhan teknis pembangkit dan pengelolaan lingkungan. Kedua sistem tersebut memiliki fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi. (sic)