Naradaily-Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jawa Tengah, Abdul Kholik, menyatakan dukungannya terhadap langkah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang tengah mengkaji penerapan kembali sistem enam hari sekolah dalam seminggu untuk jenjang SMA dan SMK. Ia menilai konsep tersebut lebih sesuai dengan kebutuhan pembelajaran dibandingkan sistem lima hari sekolah yang saat ini diterapkan.
Menurut Abdul Kholik, kebijakan lima hari kerja pada dasarnya berasal dari sektor ketenagakerjaan dan efisiensi waktu kerja, bukan dari konsep pendidikan. Ia menjelaskan bahwa lima hari kerja muncul di negara industri, seperti Amerika Serikat, karena tuntutan buruh, sehingga tidak selaras jika diterapkan begitu saja dalam sistem pendidikan.
Ia menegaskan bahwa dunia pendidikan memiliki karakteristik berbeda. Semakin banyak waktu siswa belajar, maka pembentukan karakter akan lebih optimal. Ia mencontohkan model pendidikan berbasis asrama atau pesantren yang dinilai lebih menjamin perkembangan siswa karena mereka berada dalam pengawasan dan proses pembelajaran sepanjang waktu.
Untuk sekolah umum non-asrama di Indonesia, termasuk di Jawa Tengah, enam hari sekolah dianggap lebih ideal. Dengan pembagian waktu belajar yang tidak dipadatkan, siswa dapat pulang lebih awal, memiliki waktu bersosialisasi, serta memperoleh kesempatan menambah pembelajaran agama sesuai keyakinan masing-masing. Hal itu, lanjut dia, sejalan dengan karakter masyarakat Indonesia yang religius dan mendukung pembentukan karakter siswa secara lebih menyeluruh.
Abdul Kholik menilai sistem lima hari sekolah justru menimbulkan kekhawatiran karena menambah beban fisik dan psikologis siswa. Selain itu, sistem tersebut dinilai berpotensi mengganggu proses pembentukan karakter melalui interaksi di lingkungan tempat tinggal.
Oleh karena itu, ia mendorong kajian serius untuk menerapkan kembali enam hari sekolah dalam satu minggu, dimulai dari tingkat provinsi dan diikuti pemerintah kabupaten/kota agar berlaku di seluruh jenjang pendidikan formal di Jawa Tengah. Ia meyakini langkah ini dapat membuat model pembelajaran selaras dengan pembentukan karakter dan kemampuan bersosialisasi siswa.
“Dengan demikian, model pembelajaran bagi siswa bisa sejalan dengan pembentukan karakter yang lebih utuh dan kemampuan bersosialisasi di lingkungan lebih terjaga,” pungkas Kholik. (kom)