Naradaily-Jumlah korban tewas akibat demonstrasi di Iran dilaporkan telah melampaui 2.000 orang per Selasa (13/1/2026). Informasi tersebut disampaikan para aktivis, bersamaan dengan mulai pulihnya akses komunikasi internasional setelah sebelumnya diputus oleh otoritas Iran selama penindakan terhadap demonstran.

Mengutip laporan AP, Rabu (14/1/2026), Human Rights Activists News Agency yang berbasis di Amerika Serikat (AS) melaporkan, jumlah korban tewas akibat gelombang demonstrasi meningkat menjadi setidaknya 2.003 orang. Angka tersebut jauh melampaui jumlah korban jiwa dalam protes atau kerusuhan di Iran pada beberapa dekade terakhir dan mirip dengan situasi kacau menjelang Revolusi Islam 1979.

Tak lama setelah laporan terbaru mengenai jumlah korban tewas beredar ke publik, Presiden AS Donald Trump menyampaikan dukungannya terhadap warga Iran. Pernyataan ini disampaikan Trump melalui platform Truth Social.

“Teruslah protes, kuasai institusi kalian,” tulis Trump. Gelombang demonstrasi di Iran dimulai sekitar 2 pekan lalu sebagai bentuk luapan kemarahan masyarakat atas memburuknya kondisi perekonomian.

Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi protes terhadap rezim teokrasi, khususnya terhadap pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang saat ini telah berusia 86 tahun.

Trump Batal Bertemu Petinggi Iran

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga telah menyatakan membatalkan rencana pertemuan dan komunikasi dengan pejabat tinggi Iran di tengah memanasnya gelombang aksi protes di negara tersebut. Meski demikian, Trump mengatakan bantuan bagi warga Iran sedang dalam perjalanan.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Selasa (13/1/2026) waktu setempat, yang kemudian ia ulangi saat berpidato ketika mengunjungi pabrik mobil di Michigan. Namun, Trump tidak menjelaskan secara terperinci bentuk bantuan yang dimaksud.

“Simpan nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan. Mereka akan membayar mahal. Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan tanpa akal sehat terhadap para demonstran berhenti. Bantuan sedang dalam perjalanan,” ujar Trump, dikutip dari AP, Rabu (14/1/2026).

Menurut laporan badan pengawas hak asasi manusia, jumlah korban tewas akibat demonstrasi di Iran dilaporkan telah melebihi 2.000 orang. Trump mengaku tidak memiliki angka pasti terkait jumlah korban jiwa.

“Saya pikir jumlahnya banyak. Terlalu banyak, berapa pun jumlahnya,” tambahnya.

Trump diketahui berulang kali memperingatkan Iran, AS tidak akan ragu mengambil tindakan militer jika Iran terus menggunakan kekerasan yang mematikan untuk menghadapi para demonstran antipemerintah. Pada Minggu (11/1/2026), orang nomor satu di AS tersebut mengatakan Iran mulai melewati batas dan membuat dirinya serta tim keamanan nasional AS mempertimbangkan pilihan yang sangat kuat, meski Trump mengeklaim Iran sebelumnya sempat berupaya mendekati AS untuk bernegosiasi. (sic)