Naradaily- Ada bangunan yang sekadar berdiri, dan ada bangunan yang mengingat. Sebuah rumah kayu berusia seabad pernah menunggu sunyi: nyaris hilang oleh waktu, nyaris lenyap oleh keputusan manusia. Namun sebelum ia menjadi serpihan kenangan, seseorang datang dan memilih untuk mendengar.

Restu Imansari Kusumaningrum tidak hanya menyelamatkan rumah. Ia menyelamatkan napas yang tersisa di dalamnya. Bau kayu tua, suara lantai yang berderit, dan bayangan orang-orang yang pernah hidup di ruang-ruangnya. Rumah itu dibongkar bukan untuk diakhiri, tetapi untuk diberi perjalanan baru.

Dari Palembang, bagian demi bagian kayu menempuh jarak panjang menuju Bali. Seperti tubuh yang dipindahkan, namun jiwanya tetap dibawa serta. Setiap tiang dipasang kembali dengan kesabaran, setiap ukiran diperlakukan seperti naskah kuno yang tidak boleh salah dibaca. Di tangan Restu, rumah bukan benda mati.

Ia menjadi panggung, tempat seni pertunjukan bernafas, tempat penari, pemusik, dan penutur cerita saling menemukan. Dindingnya tidak hanya melindungi manusia dari hujan, tetapi melindungi ingatan dari lupa. Melalui Bumi Purnati dan Yayasan Losari, ia merawat lebih dari sekadar program seni.

Ia merawat kemungkinan—bahwa tradisi tidak harus menjadi museum, bahwa budaya bisa tetap hidup tanpa kehilangan akar. Bahkan batik Jlamprang pun ia jaga seperti menjaga pola waktu itu sendiri. Ada keberanian besar dalam merawat yang rapuh. Karena merawat berarti menerima bahwa segala sesuatu bisa hilang kapan saja.

Dan justru dari kesadaran itulah, perhatian menjadi doa yang dilakukan setiap hari. Suatu saat mungkin kita tidak mengenal siapa yang pertama tinggal di rumah itu. Namun kita akan tahu satu hal: pernah ada seseorang yang menolak melupakan. Dan karena itu, sebuah rumah tidak lagi sekadar bangunan—ia menjadi tempat ingatan manusia terus pulang. (kom)