Naradaily-Pengamat ekonomi Universitas Jember, Adhitya Wardhono, PhD menilai sinyal perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi menurunkan harga minyak dunia dan memberikan dampak terhadap ekonomi global.
“Sinyal damai AS dan Iran salah satunya mendorong penurunan harga minyak, namun harga minyak yang turun perlu dibaca secara hati-hati,” kata Adhitya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (28/5/2026).
Menurut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unej itu, penurunan harga minyak bukan semata karena fundamental pasokan telah pulih, melainkan pasar mulai memasukkan probabilitas perdamaian ke dalam pergerakan harga.
“Jika sinyal damai menguat, premi risiko perang turun. Itulah mengapa harga minyak bisa ambruk dalam satu hari. Namun, bagi Indonesia, minyak di sekitar USD 90-100 per barel tetap tinggi,” tuturnya.
Secara teori, lanjut Adhitya, penurunan harga minyak sebenarnya menguntungkan Indonesia karena masih menjadi negara net importer minyak dan bahan bakar minyak (BBM). Harga minyak yang lebih rendah dapat membantu mengurangi tekanan impor energi, subsidi, kompensasi energi, hingga inflasi biaya transportasi.
“Namun, manfaat itu bisa berkurang jika rupiah melemah tajam. Dalam ekonomi terbuka, yang penting bukan hanya harga minyak dalam dolar AS, tetapi harga minyak dalam rupiah,” ujarnya.
Ia menjelaskan sinyal damai antara AS dan Iran juga memengaruhi posisi dolar Amerika Serikat terhadap sejumlah mata uang dunia. Pelemahan dolar dinilai menjadi kabar baik bagi Indonesia, meski belum cukup kuat untuk menopang rupiah secara penuh.
“Rupiah baru bisa menguat lebih solid kalau tiga hal terjadi bersamaan yaitu harga minyak turun berkelanjutan, dolar global melemah, dan kepercayaan investor terhadap kebijakan domestik membaik,” katanya.
Adhitya menambahkan, dolar AS bisa saja melemah akibat meredanya ketegangan geopolitik, namun rupiah tetap membutuhkan dukungan fundamental seperti inflasi yang terkendali, defisit fiskal yang kredibel, dan pasokan devisa yang memadai.
Ia menilai dampak langsung dari sinyal damai AS-Iran memang terlihat pada harga minyak dunia. Meski demikian, penurunan harga minyak belum tentu berlangsung permanen karena konflik di Timur Tengah sebelumnya telah memicu gangguan besar terhadap pasokan minyak global.
Gangguan tersebut mencakup pembatasan arus distribusi melalui Selat Hormuz, penurunan pasokan minyak dunia, hingga berkurangnya stok minyak global.
“Harga minyak bergerak sangat liar karena pasar merespons sinyal yang berubah-ubah mengenai apakah AS dan Iran akan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz,” ujarnya.
Menurut Adhitya, sinyal perdamaian juga dapat mengurangi tekanan terhadap bank sentral global untuk menaikkan atau mempertahankan suku bunga tinggi. Selain itu, kondisi damai menjadi faktor penting bagi perdagangan dunia karena kawasan Timur Tengah merupakan jalur strategis energi dan logistik internasional.
“Intinya, sinyal damai AS-Iran adalah kabar baik bagi ekonomi dunia karena menurunkan premi risiko geopolitik. Dampaknya terlihat pada minyak yang turun, dolar yang melemah, dan pasar yang lebih optimistis. Tetapi ini belum berarti ekonomi dunia kembali normal,” katanya. (kom)