Naradaily-Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menegaskan Muktamar Ke-35 NU siap digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026.

“Insyaa Allah persiapan sudah dilakukan dengan baik,” ujar Gus Yahya saat konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Gus Yahya menjelaskan pemilihan Pondok Pesantren Tambakberas sebagai lokasi Muktamar Ke-35 NU memberikan ketenangan bagi warga Nahdlatul Ulama. Pesantren tersebut didirikan oleh salah satu pendiri NU sekaligus salah satu soko guru ruhani Nahdlatul Ulama, yakni KH Abdul Wahab Chasbullah.

“Sehingga Insyaa Allah dengan berkah daripada pesantren Tambakberas ini, Insysa Allah kita bisa mengharapkan muktamar yang lancar yang harmonis dan mengharapkan hasil-hasil yang sungguh membawa manfaat maslahah berkah bagi khususnya warga Nahdlatul Ulama, tapi tentu saja juga bagi bangsa yang kita cintai ini dan bagi kemanusiaan seluruhnya,” katanya.

Menurut Gus Yahya, sejumlah materi strategis telah disiapkan untuk dibahas dalam Muktamar NU 2026. Pembahasan tersebut tidak hanya menyangkut kepentingan organisasi, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan bangsa dan kemaslahatan kemanusiaan secara luas.

Salah satu agenda utama yang akan dibahas adalah konsep roadmap 25 tahun Nahdlatul Ulama ke depan, termasuk penguatan nilai-nilai keulamaan sebagai bagian dari arah pembangunan organisasi.

PBNU juga akan mengusulkan pembahasan mengenai nilai-nilai keulamaan yang menjadi bagian dari agenda transformasi pesantren sebagai strategi sistematis yang tengah dijalankan organisasi.

Selain itu, Muktamar Ke-35 NU juga akan membahas pengembangan program kaderisasi, penerapan manajemen digital, hingga pengembangan berbagai inisiatif ekonomi yang dapat memperkuat kemandirian organisasi dan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya menyampaikan bahwa salah satu capaian fundamental selama masa kepengurusan periode ini adalah penerapan sistem manajemen digital yang telah diterapkan mulai dari tingkat pusat hingga kepengurusan tingkat kecamatan atau majelis wakil cabang (MWC).

“Saya sudah dapat gambaran bahwa apabila dikembangkan dengan strategi tepat terkoneksi dalam sistem digital, daya jangkau kepada warga akan semakin efektif,” katanya.

Menurutnya, sistem digital tersebut mampu memperkuat konsolidasi organisasi secara menyeluruh. Dengan sebaran warga NU yang ada di seluruh Indonesia, digitalisasi juga dinilai dapat mendukung proses konsolidasi bangsa secara lebih luas. (kom)