Naradaily-Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan bahwa fenomena aliran modal ke luar negeri menjadi faktor utama yang menyebabkan nilai tukar rupiah melemah terhadap mata uang asing selama beberapa dekade terakhir.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan dalam Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).
“Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah ini dan itu, ya karena kekayaannya keluar. Kalau darah kita tiap hari keluar, di ujungnya badan kita kolaps,” kata Presiden Prabowo.
Menurut Prabowo, kondisi tersebut terjadi karena adanya kebocoran kekayaan nasional yang terus mengalir ke luar negeri. Ia menjelaskan fenomena itu dikenal dengan istilah net outflow of national wealth atau aliran keluar kekayaan nasional secara bersih.
Presiden mengungkapkan bahwa berdasarkan data internasional, Indonesia sebenarnya mencatat surplus neraca perdagangan selama 17 tahun dari total 22 tahun terakhir. Namun, keuntungan yang diperoleh dari aktivitas perdagangan tersebut tidak sepenuhnya dinikmati di dalam negeri.
Prabowo menyebutkan total keuntungan perdagangan Indonesia mencapai 436 miliar dolar AS. Akan tetapi, dari jumlah tersebut sekitar 343 miliar dolar AS kembali mengalir ke luar negeri melalui para pemilik modal.
Menurut Kepala Negara, kondisi itu menyebabkan dana riil yang tersisa dan beredar di dalam negeri menjadi sangat terbatas, sehingga manfaat ekonomi yang seharusnya dirasakan masyarakat tidak dapat optimal.
“Yang terjadi di Indonesia ini adalah mengalir keluar kekayaan bangsa Indonesia, keluar negeri,” ujar Prabowo menegaskan.
Karena itu, Presiden menyatakan berkomitmen untuk memperbaiki sistem ekonomi yang dinilainya belum berpihak sepenuhnya pada kepentingan nasional. Langkah tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari tanggung jawab yang diemban sesuai sumpah jabatan saat dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia.
Dalam dua dekade terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami pelemahan secara fluktuatif. Pada pertengahan 2000-an, nilai rupiah masih berada di kisaran Rp9.000 per dolar AS.
Pergerakan rupiah kemudian mendapat tekanan dari berbagai faktor global, mulai dari gejolak pasar keuangan internasional pada 2013, pandemi COVID-19, hingga konflik geopolitik dunia yang sempat mendorong nilai tukar rupiah melewati level terendah sepanjang sejarah di atas Rp18.000 per dolar AS. (kom)