Naradaily-Raksasa perbankan asal Swiss, UBS, memangkas proyeksi harga emas pada akhir 2026 menjadi USD5.500 per ons troi, lebih rendah dibanding target sebelumnya di level USD5.900 per ons troi. Pada perdagangan Rabu (27/5/2026), harga emas ditutup anjlok 1,13% menjadi USD4.456,46 per ons troi.
Setelah sempat menyentuh level terendah sejak 27 Maret. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni ditutup jatuh 1,03% ke level USD4.488,5 per ons troi.
UBS menilai, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS masih menjadi tekanan utama bagi harga emas dalam jangka pendek. Analis UBS Dominic Schnider dan Wayne Gordon mengatakan, investor mulai kembali mempertimbangkan opportunity cost dari memegang emas di tengah tingginya suku bunga riil.
“Karakter emas yang tidak memberikan imbal hasil kembali menjadi perhatian investor ketika suku bunga riil tetap tinggi,” tulis UBS dalam riset terbarunya, melansir Kitco, Kamis (28/5/2026). Menurut UBS, permintaan emas dari exchange traded fund (ETF) maupun pasar kontrak berjangka juga mulai melemah signifikan sepanjang tahun ini.
Stabilitas arus dana yang mulai terlihat belakangan dinilai belum cukup kuat untuk mengembalikan momentum kenaikan emas seperti awal 2026. Meski memangkas target harga, UBS menegaskan tren bullish jangka panjang emas belum berakhir.
Bank tersebut masih memperkirakan harga emas akan ditutup sekitar USD1.000 lebih tinggi dibanding posisi saat ini. UBS juga memperkirakan prospek emas dapat kembali membaik pada 2027 apabila kebijakan moneter global mulai lebih netral dan tekanan terhadap dolar AS mereda.
Sebelumnya, analis komoditas UBS Giovanni Staunovo mengatakan, komoditas seperti emas dan minyak masih memiliki peluang kenaikan signifikan meski konflik Iran mereda. Menurut dia, risiko geopolitik di Timur Tengah dan gangguan pasokan energi global masih menjadi faktor pendukung utama harga komoditas.
“Komoditas masih berpotensi naik didukung ketidakseimbangan pasokan dan permintaan serta tingginya risiko geopolitik,” ujar Staunovo. Ia menambahkan, emas tetap menjadi instrumen lindung nilai penting terhadap inflasi dan ketidakpastian global.
UBS juga menilai permintaan emas secara fundamental masih cukup kuat, ditopang pembelian bank sentral dunia, meningkatnya investasi, serta permintaan perhiasan di Asia. Dalam jangka panjang, UBS meyakini tingginya utang pemerintah global dan upaya diversifikasi cadangan devisa dari dolar AS tetap akan menopang daya tarik emas sebagai aset safe haven. (sic)