Naradaily-Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai prospek pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada 2026 berpeluang membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Optimisme tersebut didorong oleh tren peningkatan konsumsi domestik yang konsisten dalam beberapa bulan terakhir, yang dinilai mampu menggerakkan kembali penyaluran kredit ke sektor UMKM.
Menurut Faisal, hambatan utama pertumbuhan kredit UMKM selama ini bukan terletak pada ketersediaan pembiayaan, melainkan pada lemahnya permintaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan pelaku UMKM. Penurunan suku bunga, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta injeksi likuiditas di sektor perbankan belum otomatis mendorong peningkatan kredit karena masalah utamanya berada di sisi permintaan.
“Ketika ada penurunan suku bunga, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan injeksi likuiditas di perbankan, itu tidak serta-merta menaikkan permintaan kredit, karena masalahnya lebih banyak dari sisi demand atau permintaan,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Senin (19/1/2026).
Ia menjelaskan, meskipun tidak seluruh peningkatan permintaan domestik berkaitan langsung dengan produk UMKM, tren tersebut tetap memberikan dampak positif terhadap perbaikan penyaluran kredit. Permintaan ini terutama berasal dari kelompok menengah atas yang sebagian juga menjadi konsumen produk barang dan jasa UMKM.
Namun demikian, Faisal menekankan pentingnya kebijakan yang lebih terarah untuk mendorong permintaan di kalangan menengah bawah, karena kelompok ini memiliki keterkaitan yang lebih kuat dengan produk UMKM. Menurutnya, stimulus yang dimaksud bukan bantuan sosial, melainkan penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.
“Maksud stimulus di sini bukan bansos ya, tetapi penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan,” katanya.
Selain faktor permintaan, ia menilai penguatan aspek pendukung juga menjadi krusial, seperti pendampingan manajemen dan keuangan bagi pelaku UMKM, serta pemanfaatan digitalisasi untuk memperluas jangkauan pasar. Banyak usaha mikro masih beroperasi secara lokal dengan basis pelanggan terbatas, sehingga perlu dukungan platform digital agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
“Kebanyakan usaha mikro masih bersifat lokal dengan pelanggan yang dekat-dekat, sehingga perlu dukungan platform digital agar bisa menjangkau pasar lebih luas,” ujarnya.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Januari 2026, kredit perbankan pada November 2025 tumbuh 7,74 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp8.314,48 triliun. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh sektor pengangkutan dan pergudangan sebesar 18,33 persen, pengadaan listrik, gas, dan air 21,83 persen, industri pertambangan 11,0 persen, serta konstruksi 8,14 persen.
Namun dari sisi debitur, kredit UMKM justru mengalami kontraksi sebesar 0,64 persen (yoy), berbanding terbalik dengan kredit korporasi yang tumbuh 12,06 persen (yoy). Kredit Investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 17,98 persen (yoy), diikuti Kredit Konsumsi yang tumbuh 6,67 persen (yoy), serta Kredit Modal Kerja sebesar 2,04 persen (yoy).
Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan terus tumbuh mencapai 12,03 persen (yoy) menjadi Rp9.899,07 triliun. Penurunan suku bunga perbankan juga berlanjut, dengan rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah turun 26 basis poin (yoy) menjadi 8,97 persen pada November 2025, terutama didorong oleh penurunan suku bunga kredit produktif. (kom)