Naradaily-Pasar otomotif Asia Tenggara menunjukkan dinamika baru. Penjualan mobil di Malaysia pada awal 2026 meningkat signifikan dan kini jaraknya semakin tipis dengan Indonesia sebagai pasar terbesar di kawasan.
Malaysia Automotive Association (MAA) melaporkan penjualan kendaraan roda empat di Malaysia sepanjang Januari 2026 mengalami pertumbuhan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Mengutip laporan media otomotif Malaysia Paultan, MAA mencatat sebanyak 64.298 unit mobil baru telah diserahkan kepada konsumen pada Januari 2026.
Meski angka tersebut turun sekitar 29 persen dibanding Desember 2025 yang mencapai 90.716 unit, capaian Januari tahun ini tetap lebih tinggi dibanding Januari 2025. Secara tahunan (year on year/YoY), penjualan mobil di Malaysia melonjak 27 persen dari 50.449 unit pada Januari 2025 menjadi 64.298 unit pada Januari 2026. Kenaikan ini disebut dipengaruhi efek berkelanjutan dari peluncuran sejumlah model baru yang diperkenalkan pada akhir 2025.
Performa tersebut membuat Malaysia hampir mengejar Indonesia. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), distribusi mobil dari pabrik ke dealer (wholesales) di Indonesia pada Januari 2026 tercatat 66.447 unit. Sementara penjualan ritel, yakni dari dealer ke konsumen, mencapai 66.936 unit.
Selisih penjualan yang semakin tipis membuat posisi Indonesia sebagai pasar otomotif terbesar di ASEAN mulai mendapat tekanan.
Sepanjang tahun 2025, Malaysia juga mencatat performa yang mendekati Indonesia. Data MAA menunjukkan total penjualan mobil di Malaysia mencapai 820.752 unit atau naik tipis 0,5 persen dibanding tahun 2024. Di sisi lain, penjualan mobil Indonesia secara ritel pada 2025 menembus sekitar 833 ribu unit, sehingga perbedaan volume kedua negara hanya berkisar belasan ribu unit.
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut perkembangan pasar otomotif Malaysia sebagai peringatan bagi Indonesia.
Ia mengatakan telah menerima laporan bahwa capaian penjualan otomotif Malaysia semakin mendekati, bahkan berpotensi melampaui Indonesia.
Menurutnya, situasi ini menjadi alarm agar industri otomotif nasional memperkuat daya saing sekaligus menjaga pasar domestik.
Meski demikian, Agus menilai Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Rasio kepemilikan mobil dinilai masih rendah dibanding jumlah penduduk sehingga peluang ekspansi pasar tetap terbuka.
Dengan populasi besar dan tingkat kepemilikan kendaraan yang masih bisa ditingkatkan, pasar domestik Indonesia dinilai tetap memiliki potensi pertumbuhan signifikan apabila didukung kebijakan industri yang tepat dan daya beli masyarakat yang membaik. Perkembangan ini pun menjadi sorotan pelaku industri otomotif kawasan karena persaingan pasar ASEAN semakin kompetitif dari tahun ke tahun. (M.Fikhar Zakaria)