Naradaily-Politikus Partai Demokrat, Didi Irawadi, melontarkan kritik keras terkait banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Ia menegaskan bahwa bencana tersebut bukan semata-mata terjadi karena faktor alam, melainkan akibat dari praktik pembangunan yang disebutnya sarat keserakahan.
Dalam pernyataannya, Didi menilai kerusakan lingkungan berlangsung masif akibat aktivitas pembabatan hutan dan maraknya tambang ilegal. Menurutnya, eksploitasi tersebut dilakukan tanpa pertimbangan jangka panjang hingga membuat tanah kehilangan kemampuan alami untuk menyerap air.
“Banjir di Sumatera bukan sekadar kehendak alam, tapi hasil proyek serakah yang dibungkus cantik sebagai ‘pembangunan’. Hutan dibabat dengan ganas, tambang liar dibiarkan tumbuh seperti jamur gelap, dan tanah dipaksa menahan luka tanpa pernah diberi kesempatan sembuh,” ujarnya.
Didi juga menyoroti dugaan keterlibatan para pengusaha dan oknum pejabat yang, menurutnya, memilih mengabaikan kerusakan lingkungan demi keuntungan pribadi. Ia menyebut praktik tersebut merampas hak masyarakat untuk hidup aman dari bencana.
“Para pengusaha rakus menjarah dari balik meja, sementara oknum pejabat serakah memilih pura-pura buta karena keuntungan lebih menggoda daripada kebenaran,” ucapnya. Ia menambahkan bahwa saat rakyat kehilangan rumah dan harta benda, respons yang muncul justru hanya berupa ucapan empati, bukan tindakan nyata untuk menghentikan perusakan lingkungan.
Didi menegaskan bahwa selama eksploitasi alam tidak dihentikan, masyarakatlah yang akan terus menanggung akibatnya. “Dan ketika rumah rakyat hanyut, yang paling cepat muncul justru pidato empati, bukan tindakan menghentikan kejahatan lingkungan. Beginilah jadinya ketika alam diperas, rakyat yang dipaksa membayar dan menanggung deritanya,” kata Didi.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan publik karena menyentil akar persoalan yang selama ini dianggap berkontribusi pada bencana ekologis di berbagai daerah. (kom)