Naradaily-Sebanyak tiga jenazah korban kebakaran gedung Terra Drone, Cempaka Putih, Kemayoran, Jakarta Pusat, berhasil diidentifikasi. Identifikasi diketahui dari kecocokan sidik jari, gigi, catatan medis hingga properti.

“Pada malam ini telah dilaksanakan sidang rekonsiliasi untuk menentukan identitas korban dan memutuskan tiga jenazah yang telah berhasil diidentifikasi,” ujar Karumkit RS Polri Brigjen Prima Heru kepada wartawan, dikutip Rabu (10/12/2025). Prima mengatakan pemeriksaan sudah dilakukan terhadap 11 jenazah.

Total jenazah yang saat ini diterima RS Polri sebanyak 22 jenazah. “Sampai dengan saat ini, Selasa tanggal 9 Desember 2025 telah menerima sebanyak 22 kantong jenazah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prima mengatakan pemeriksaan masih terus dilakukan terhadap jenazah yang belum terindentifikasi. Ia mengatakan jumlah korban yang dilaporkan hilang oleh pihak keluarga di posko DVI ante mortem RS Polri sebanyak 20 orang.

“Jumlah korban yang dilaporkan oleh pihak keluarga sampai saat ini mencapai 20 orang,” ujarnya. Berikut data tiga orang jenazah yang berhasil terindentifikasi:

 

  1. Rufaidha Lathiifunnisa, perempuan, 22 tahun, terindentifikasi berdasarkan sidik jari, catatan medis dan properti
  2. Novia Nurwana, perempuan, 28 tahun, terindentifikasi berdasarkan sidik jari, gigi, medis, dan properti
  3. Yoga Valdier Yaseer, laki-laki, 28 tahun, terindentifikasi berdasarkan sidik jari, gigi, medis dan properti

Total ada 76 orang yang menjadi korban kebakaran gedung Terra Drone di Jakpus. Sebanyak 22 orang meninggal dunia dan 54 lainnya berhasil selamat.

Kronologi Kebakaran

Kebakaran hebat melalap Gedung Terra Drone di Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025) kemarin. Dalam hitungan menit, gedung tersebut berubah jadi jebakan maut.

Asap pekat merayap cepat ke lantai atas, membuat 22 orang tewas termasuk seorang wanita hamil. Kobaran api muncul sekitar pukul 12.30 WIB, saat sebagian karyawan sudah keluar untuk makan siang.

Sebagian lain memilih tetap bekerja. Tak lama, dentuman keras terdengar dari lantai dasar. Api langsung membesar.

“Mulanya dari ini, ngecas baterai, meledak. Langsung nyala gede. Asapnya tebal,” kata Wandi, petugas parkir yang berada dekat pintu masuk.

Pegawai sempat mencoba memadamkan api dengan APAR. Namun, hasilnya nihil.

Api makin beringas, menyambar barang-barang di lantai dasar. Asap hitam menembus ke lantai dua dan tiga dalam sekejap.

Karyawan yang tersudut di lantai bawah tak bisa melewati pintu utama yang dindingnya sudah diselimuti api. Mereka berbondong-bondong naik ke lantai atas untuk cari celah hidup.

“Cepat sekali. Asap langsung tebal di lantai dua dan tiga,” ujar Dimitri, salah satu karyawan yang selamat.

Di lantai atas, pegawai terdesak ke balkon ruko yang menempel ke gedung. Mereka melambaikan tangan, menutup hidung dengan pakaian, sebagian duduk di tepi balkon sambil menangis. Yang lain mulai panik berat.

Di bawah, warga hanya bisa berteriak menyemangati sambil menahan napas. Gedung yang tinggi, akses sempit, dan lokasi diapit bangunan lain membuat evakuasi manual mustahil tanpa alat khusus.

Teriakan makin histeris ketika beberapa korban tampak hendak melompat dari lantai lima dan enam. “Tadi ada yang mau lompat. Kita teriakin, ‘Jangan!’” kata Wulan, seorang pelajar yang menyaksikan langsung.

Sambil menunggu damkar, pegawai mencoba menggabungkan tangga darurat dengan tali seadanya. Upaya itu hanya menyelamatkan sebagian kecil. Sisanya tetap terperangkap dalam kepungan asap.

Tak lama kemudian, petugas damkar tiba. Sebanyak 29 unit mobil dan 101 personel diterjunkan. Laporan pertama masuk pukul 12.43 WIB, pemadaman dimulai tujuh menit setelahnya.

Api sempat kembali membesar, membuat operasi berlangsung hingga sore. Petugas memecahkan kaca di beberapa lantai untuk melepaskan asap, sekaligus mengerahkan bronto skylift untuk menjangkau korban yang mengharap pertolongan dari atas.

“Sebanyak 22 orang yang meninggal dunia, 15 wanita dan tujuh laki-laki. Pemadaman selesai dan selanjutnya saya bersama Pak Kapolres akan mengidentifikasi lagi,” ujar Kepala Dinas Damkar DKI Jakarta, Bayu Megantara.

Menurut Bayu, korban paling banyak ditemukan di lantai 3 dan 4. Padahal, kedua lantai tersebut bukan titik awal kebakaran.

Ia mengatakan korban banyak ditemukan di dua lantai tersebut akibat sesak napas. “Betul (bukan area yang terbakar),” kata Bayu.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo P. Condro, menyebut seorang wanita hamil termasuk korban tewas. “Ada korban wanita hamil,” katanya.

Ia menjelaskan hasil penyelidikan awal mengarah pada baterai drone yang meledak di lantai dasar. Karyawan sempat memadamkan, tapi gagal karena lantai satu juga menjadi area penyimpanan barang.

“Baterai terbakar, menyebar, karena lantai satu itu gudang,” ujarnya. Penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan Puslabfor Polri. Semua korban dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk identifikasi lebih lanjut.

Dalam proses evakuasi, petugas kepolisian juga ikut jadi korban. Kapolsek Kemayoran, Kompol Agung Adriansyah, mengalami luka serius akibat pecahan kaca besar yang jatuh dari lantai atas saat ia ikut membantu evakuasi.

“Tangan Kapolsek robek akibat hantaman kaca,” kata Wakapolres AKBP Budi Prasetya. Agung langsung dilarikan ke RS Islam untuk operasi.

Di RS Polri, proses identifikasi berlangsung intensif. Kepala RS Polri Brigjen Pol Prima Heru Yulihartono mengatakan 11 tim DVI—antemortem, postmortem, hingga DNA—telah bekerja. “Kami juga koordinasi dengan Universitas Indonesia (UI) dan Inafis,” katanya.

Keluarga diminta membawa data pembanding ke Gedung DVI. “Silakan melapor ke gedung DVI di samping kantin,” ujarnya.

Pemprov Tanggung Biaya Korban

Terpisah, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan pemerintah provinsi akan menanggung seluruh biaya pemakaman para korban. Ia juga telah meminta jajarannya menyiapkan lahan pemakaman bagi korban yang mungkin tidak dapat disatukan di satu lokasi.

“Pemerintah DKI Jakarta akan bertanggung jawab untuk seluruh korban pemakaman yang meninggal dunia berapapun jumlahnya,” ujarnya. Selain pemakaman, Pemprov DKI juga menanggung biaya perawatan bagi korban luka.

“Yang luka dan sebagian nanti akan dirujuk dan kami Pemerintah DKI Jakarta yang akan menyelesaikan bagi yang luka dan sebagainya,” tutup Pramono. (sic)