Naradaily-Badan Riset dan Inovasi Nasional Badan Riset dan Inovasi Nasional mengingatkan potensi kembalinya wabah pes di Indonesia. Meski tidak ada kasus dalam beberapa tahun terakhir, bakteri penyebab penyakit tersebut masih terdeteksi di lingkungan, sehingga risiko kemunculannya tetap ada.
Peneliti BRIN menjelaskan bahwa kondisi saat ini kemungkinan berada dalam fase silent period, yaitu periode tanpa kasus yang terdeteksi, namun bukan berarti penyakit tersebut benar-benar hilang. Bakteri penyebab pes, yaitu Yersinia pestis, masih dapat bertahan pada hewan reservoir seperti tikus dan ditularkan melalui gigitan pinjal.
Penyakit pes merupakan salah satu penyakit menular berbahaya yang pernah menyebabkan wabah besar di dunia, termasuk di Indonesia pada masa lalu. Penularannya yang cepat dan tingkat kematian yang tinggi menjadikan penyakit ini perlu diwaspadai meskipun kasusnya jarang terjadi saat ini.
BRIN menyebut sejumlah faktor dapat meningkatkan potensi kemunculan kembali wabah tersebut. Perubahan lingkungan seperti deforestasi, alih fungsi lahan, serta meningkatnya kepadatan penduduk membuat interaksi antara manusia dan hewan pembawa penyakit semakin tinggi. Selain itu, perubahan iklim juga dapat memengaruhi populasi pinjal sebagai vektor penular.
Beberapa wilayah di Pulau Jawa, seperti Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung, diketahui merupakan daerah bekas endemis pes. Kondisi ini membuat wilayah tersebut tetap perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya pencegahan dan pemantauan.
Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, BRIN mendorong penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, dan lingkungan. Selain itu, peningkatan kebersihan lingkungan serta pengendalian populasi tikus dan pinjal juga menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran penyakit. Dengan masih adanya potensi penyebaran, kewaspadaan dini dan langkah pencegahan menjadi kunci agar wabah pes tidak kembali menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. (Syafa)