Naradaily-Politisi Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin menegaskan bahwa aksi mahasiswa yang turun ke jalan merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa dan negara. Menurutnya, gerakan mahasiswa tidak lahir dari rasa benci terhadap Indonesia, melainkan karena kecintaan yang besar terhadap masa depan negeri.

“Mahasiswa turun ke jalan bukan karena mereka membenci negeri ini. Justru karena mereka terlalu mencintainya,” ujar Didi Irawadi Syamsuddin.

Didi menilai suara mahasiswa menjadi alarm sosial yang penting ketika masyarakat menghadapi berbagai tekanan ekonomi. Ia menyoroti kondisi harga kebutuhan pokok yang terus meningkat, biaya hidup yang semakin berat, menyusutnya lapangan pekerjaan, serta gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di berbagai sektor.

“Ketika harga sembako terus menekan dapur rakyat, ketika biaya hidup semakin berat, ketika lapangan kerja menyusut dan gelombang PHK datang silih berganti, suara mahasiswa menjadi alarm yang mengingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak sedang baik-baik saja,” katanya.

Sebagai seorang lawyer, penulis, dan politisi, Didi menegaskan bahwa aksi damai mahasiswa tidak boleh dipandang sebagai ancaman terhadap demokrasi. Sebaliknya, ia menilai demokrasi justru berada dalam kondisi yang berbahaya apabila kritik masyarakat dibungkam dan kekuasaan hanya mau mendengar pujian.

“Aksi damai bukan ancaman bagi demokrasi. Yang lebih berbahaya justru ketika kritik dibungkam dan kekuasaan hanya mau mendengar tepuk tangan,” ujarnya.

Ia juga menilai masyarakat memiliki hak untuk mempertanyakan berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai berdampak luas terhadap kehidupan rakyat. Menurut Didi, pertanyaan publik mengenai efektivitas program-program besar yang menghabiskan anggaran negara harus dijawab secara terbuka dan argumentatif.

“Rakyat berhak bertanya. Mengapa program-program raksasa yang menghabiskan ratusan triliun rupiah terus berjalan tanpa evaluasi mendasar?” katanya.

Didi juga mempertanyakan sejumlah persoalan ekonomi yang saat ini menjadi perhatian publik, mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, menurunnya kepercayaan pasar saham, hingga daya beli masyarakat yang terus mengalami tekanan.

“Mengapa berbagai kebijakan yang dijanjikan membawa kesejahteraan justru memunculkan begitu banyak pertanyaan di lapangan? Mengapa nilai rupiah melemah, pasar saham kehilangan kepercayaan, dan daya beli masyarakat terus tergerus?” lanjutnya.

Menurut dia, demokrasi akan mengalami kemunduran apabila kritik dan pertanyaan masyarakat dijawab dengan kemarahan, bukan melalui argumentasi yang rasional dan terbuka.

“Ketika pertanyaan dijawab dengan kemarahan, bukan dengan argumentasi, maka demokrasi sedang berjalan mundur,” tegas Didi.

Ia menambahkan bahwa sejarah menunjukkan bangsa-bangsa besar lahir dari budaya kritik yang sehat, bukan dari praktik asal bapak senang (ABS) maupun puja-puji terhadap kekuasaan. Peran mahasiswa, akademisi, pers, dan masyarakat sipil dinilai sangat penting dalam menjaga keseimbangan demokrasi dan mengingatkan penguasa bahwa jabatan merupakan amanah yang bersifat sementara.

“Sejarah membuktikan bahwa bangsa besar tidak lahir dari budaya ABS dan puja-puji kekuasaan. Bangsa besar lahir ketika mahasiswa, akademisi, pers, dan masyarakat sipil berani mengingatkan penguasa bahwa jabatan hanyalah titipan,” ujarnya.

Karena itu, Didi mengajak seluruh pihak untuk menghormati dan mendengarkan aspirasi yang disampaikan mahasiswa melalui aksi damai. Menurutnya, suara yang terdengar lantang di jalanan sering kali merupakan refleksi dari persoalan yang terlalu lama diabaikan oleh para pengambil kebijakan.

“Karena itu, dukung aksi damai mahasiswa. Dengarkan mereka. Jangan dibungkam. Sebab sering kali suara yang paling nyaring di jalanan adalah jeritan yang paling lama diabaikan di ruang kekuasaan,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Didi menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan keberanian untuk melakukan perbaikan, bukan sekadar memperbanyak pihak yang membela kekuasaan tanpa kritik.

“Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak buzzer. Indonesia membutuhkan lebih banyak keberanian untuk mengatakan: ada yang harus diperbaiki,” ujar Didi Irawadi Syamsuddin. (kom)