Naradaily-Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Hanan A Razak meminta Kementerian Kehutanan (Kemenhut) segera menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik di Kalimantan agar tidak meluas.

Menurut Hanan, pemerintah perlu memastikan seluruh kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta aparat terkait memiliki langkah penanganan yang terintegrasi, mulai dari pencegahan hingga respons ketika kebakaran terjadi.

“Kolaborasi dengan masyarakat Kelompok Tani Hutan (KTH), Brigade Manggala Agni, dan perusahaan-perusahaan yang punya alat pemadam api ringan (APAR) perlu dikoordinasikan dan diikutsertakan dalam mengatasi karhutla,” kata Hanan di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Dorongan tersebut dinilai penting mengingat sejumlah wilayah di Kalimantan telah mengalami kebakaran yang berpotensi meluas apabila tidak segera ditangani melalui koordinasi yang baik di lapangan.

Hanan juga meminta pemerintah memperkuat koordinasi untuk menghadapi dampak El Nino yang berpotensi meningkatkan kekeringan dan risiko terjadinya karhutla. Pemerintah, menurut dia, perlu segera menghimpun data mengenai wilayah rawan kebakaran, ketersediaan sumber air, hingga potensi dampak yang dapat ditimbulkan.

Ia berharap koordinasi antarkementerian dan lembaga tidak berhenti pada rapat ataupun pembentukan posko, tetapi benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata di lapangan.

“Penguatan pencegahan, kesiapan personel dan peralatan, pengelolaan lahan gambut, pemantauan hotspot, serta respons cepat dinilai menjadi kunci agar karhutla tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas,” kata Hanan.

Dengan potensi kemarau yang lebih kering dan ancaman El Nino, Hanan meyakini sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, dunia usaha, dan masyarakat dapat menekan risiko karhutla di Kalimantan.

Kondisi kebakaran tersebut juga mulai berdampak terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah. Berdasarkan data per Rabu (19/8), kualitas udara di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, memburuk drastis. Indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) tercatat mencapai 487 dan masuk kategori berbahaya.

Pekatnya asap turut berdampak langsung terhadap jarak pandang. Visibilitas di sejumlah wilayah dilaporkan hanya sekitar 1,4 kilometer.

Situasi tersebut tidak terlepas dari tingginya aktivitas karhutla di Kalimantan Tengah. Data yang sama mencatat sebanyak 1.795 titik panas terdeteksi di wilayah Kalteng.

Kondisi ini semakin memperkuat urgensi penanganan karhutla secara cepat dan terpadu. Pencegahan, kesiapan personel dan peralatan, pengelolaan lahan gambut, pemantauan titik panas, serta respons cepat menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran berkembang dan menimbulkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. (kom)