Naradaily-Gempa bumi tektonik dangkal berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Laut Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pukul 05.58 WITA. Gempa tersebut menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah, menewaskan 51 orang, melukai 182 orang, dan memaksa lebih dari 5.000 warga mengungsi.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno meminta pemerintah daerah segera membentuk satuan tugas (satgas) untuk memperkuat koordinasi penanganan masyarakat terdampak gempa. Arahan tersebut disampaikan Pratiknodi wilayah terdampak di Manggarai, NTT, kemarin.

Menurutnya, pembentukan satgas diperlukan karena lokasi pengungsian dan wilayah terdampak gempa tersebar di sejumlah titik. “Kami dorong agar satgas daerah segera dibentuk karena lokasi pengungsian ada di beberapa titik. Selain itu, kami melihat masih ada kebutuhan dasar para pengungsi yang harus dipenuhi,” ujar Pratikno dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).

Berdasarkan data penanganan sementara, Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal dunia terbanyak, yakni 23 orang. Sementara itu, Kabupaten Manggarai Timur mencatat 20 korban meninggal dunia.

Di Kabupaten Manggarai, sebanyak 23 orang meninggal dunia dan 119 orang mengalami luka-luka. Di Kabupaten Manggarai Timur, tercatat 20 orang meninggal dan 24 orang luka-luka.

Selanjutnya, Kabupaten Sikka mencatat empat orang meninggal dunia dan 17 orang luka-luka. Kabupaten Ende mencatat dua orang meninggal dan 14 orang luka-luka.

Sementara itu, Kabupaten Manggarai Barat mencatat satu orang meninggal dan enam orang luka-luka. Kabupaten Nagekeo mencatat satu orang meninggal dan dua orang luka-luka.

Selain menimbulkan korban jiwa, gempa juga mengakibatkan kerusakan pada rumah warga dan fasilitas umum. Sebanyak 1.639 unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan.

Dari jumlah tersebut, 841 rumah mengalami rusak berat, 48 rumah rusak sedang, dan 174 rumah rusak ringan. Adapun 576 rumah lainnya masih dalam proses klasifikasi tingkat kerusakan.

Kerusakan juga terjadi pada 167 fasilitas umum, yang terdiri atas 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintah. Sementara itu, hingga Minggu 16 Agustus pukul 19.05 WIB, dana bantuan darurat yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp372 juta.

Dari jumlah tersebut, Rp65 juta telah disalurkan secara langsung ke sejumlah posko lapangan. Bantuan masing-masing diberikan kepada Posko Aeramo di Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, sebesar Rp25 juta; Posko Kurubhoko di Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, sebesar Rp25 juta; serta Posko Karot di Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, sebesar Rp15 juta. Pemerintah bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus melakukan pendataan, evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, serta penanganan warga terdampak di sejumlah wilayah di NTT. (sic)