Naradaily-Selain bangunan tempat tinggal, sekolah juga menjadi fokus rehabilitasi pascagempa di NTT. Bangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Manggarai mengalami kerusakan akibat gempa bumi di kawasan Reo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (21/8/2026).

Kerusakan bangunan sekolah menjadi bagian dari dampak gempa yang turut mengganggu fasilitas pendidikan di sejumlah wilayah NTT. Hingga Jumat (21/8/2026), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 804 fasilitas pendidikan terdampak akibat gempa bumi NTT.

Sementara itu, data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat lebih banyak bangunan sekolah yang rusak akibat gempa. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat melaporkan bahwa gempa bumi M 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) berdampak pada 1.378 satuan pendidikan.

“Gempa bumi berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan dengan 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat di 7 kabupaten dengan jumlah peserta didik mencapai 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan,” ujar Atip dalam konferensi pers yang digelar secara daring, dikutip Jumat (21/8/2026).

Atip menyampaikan, dari 8.664 ruang kelas yang terdata, sebanyak 5.521 atau sekitar 63,7 persen dilaporkan rusak. Bahkan, 2.229 di antaranya masuk dalam kategori rusak berat atau total. “Kerusakan juga menimpa laboratorium, perpustakaan, sanitasi, dan hunian dinas guru,” kata Atip.

Akibat kondisi dampak gempa di bangunan sekolah, proses pembelajaran 1.116.324 murid menjadi terganggu dan pelaksanaan pembelajaran mengikuti kebijakan pembelajaran dari rumah dan di tempat pengungsian. Hal itu dilakukan untuk menghindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai anak-anak karena gempa susulan yang masih terus berlangsung.

“Dilaporkan sebanyak 923 satuan pendidikan melaporkan menerapkan belajar dari rumah, 171 pembelajaran daring, 35 sekolah belajar di kelas darurat, dan 30 sekolah masih tatap muka,” rincinya. Kemendikdasmen menyiapkan ruang kelas darurat bertahap untuk sekolah yang mengalami rusak berat.

“Saat ini kami sedang mendistribusikan 100 tenda ruang kelas yang diharapkan bisa mulai digunakan minggu depan untuk belajar anak,” tutur Atip. Atip menyebut, pihaknya terus melakukan pendataan dampak dan kebutuhan pendidikan secara real-time melalui dashboard di situs resmi Kemendikdasmen.

Kemendikdasmen juga telah menerbitkan panduan pembelajaran di masa darurat, fleksibilitas moda dan materi, penekanan pada materi esensial literasi numerasi dasar, dan dukungan psikososial bagi peserta didik. Kerusakan fasilitas pendidikan menjadi salah satu perhatian dalam penanganan pascabencana, terutama untuk memastikan kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung dengan aman. (sic)