Naradaily-Pengamat maritim Marcellus Hakeng Jayawibawa menilai pengalaman Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin di sektor pelayaran dapat menjadi modal untuk memperkuat perhatian NU terhadap ekonomi biru.

“Pengalaman Gus Kikin sebagai pelaut dan pengelola usaha maritim menjadi kekuatan tersendiri bagi organisasi sebesar NU,” kata Hakeng dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Menurut pengamat maritim dari Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas Strategic Centre (IKAL SC) itu, pengalaman di sektor pelayaran memberikan kemampuan manajerial yang relevan untuk memimpin organisasi dengan jaringan luas seperti NU.

Ia mengatakan dunia pelayaran antara lain mengajarkan disiplin, ketepatan membaca situasi, pengambilan keputusan di tengah ketidakpastian, serta kerja sama.

“Struktur NU yang membentang luas dari pesisir hingga pedalaman membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya berakar pada tradisi pesantren, tetapi juga memiliki keahlian manajerial modern serta kecakapan membaca dinamika lingkungan strategis,” ujarnya.

Gus Kikin memiliki latar belakang pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Setelah menjalani praktik pelayaran selama tiga tahun, ia bergabung dengan perusahaan pelayaran PT Djakarta Lloyd dan kemudian dipercaya menjadi Kepala Cabang Cilegon pada 1988.

Ia selanjutnya menekuni dunia usaha, termasuk mendirikan perusahaan yang bergerak di sektor transportasi dan pelayaran.

Hakeng menilai pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu modal untuk mendorong penguatan kemandirian ekonomi umat, termasuk melalui pemanfaatan potensi sektor maritim.

Menurut dia, sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi ekonomi biru yang perlu dimanfaatkan secara optimal dalam pembangunan nasional.

“Gus Kikin memiliki kapasitas unik sebagai jembatan yang menghubungkan dunia pesantren, ekonomi umat, dan sektor maritim. Kehadiran ulama dengan latar belakang pelaut memberikan warna baru dalam kepemimpinan organisasi keagamaan,” katanya.

Hakeng berharap kepemimpinan Gus Kikin dapat memperluas perhatian NU terhadap berbagai isu strategis nasional, termasuk pembangunan sektor maritim.

“Kita sangat menunggu peran aktif NU di bawah kepemimpinan Gus Kikin untuk memberikan warna positif dan arah baru bagi kebaikan bangsa Indonesia ke depan, khususnya dalam mempertegas kembali jati diri kita sebagai bangsa maritim yang kuat, mandiri, dan berdaya saing global,” ujarnya.

Ia menganalogikan kepemimpinan organisasi sebesar PBNU dengan mengemudikan kapal yang menghadapi berbagai kondisi di laut.

“Laut tidak selalu tenang. Ada gelombang, badai, dan perubahan arus. Seorang nakhoda sejati harus mampu menjaga kapal tetap berada pada jalur pelayaran tanpa pernah kehilangan arah tujuan,” katanya.

Hakeng berharap pengalaman Gus Kikin di lingkungan pesantren dan dunia usaha dapat dipadukan untuk memperkuat program yang memberikan manfaat bagi warga Nahdliyin dan masyarakat.

Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031 melalui musyawarah sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8).

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng itu sebelumnya juga menjabat Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. (kom)